Milan (ANTARA News) - Wakil presiden AC Milan Adriano Galliani mengkritik hukuman menjalani pertandingan tanpa kehadiran penonton di kancah Liga Italia, ketika rasisme kembali menodai sepak bola papan atas negeri itu.

Masalah yang sudah lama mengganggu sepak bola Italia itu kembali terlihat pada akhir pekan silam, ketika para penggemar Milan dilaporkan menghina dua pemain berkulit hitam Juventus, Paul Pogba dari Prancis dan Kwadwo Asamoah dari Ghana, dengan lagu-lagu rasis.

Milan kalah 2-3 dari penderitaan Tim Merah Hitam - mereka saat ini menghuni peringkat ke-12, tertinggal 13 angka dari pemuncak klasemen AS Roma - semakin dalam ketika ofisial disiplin menskors satu pertandingan tanpa penonton kepada klub.

Sesuai dengan peraturan UEFA yang telah diadopsi dan diinterpretasi oleh federasi sepak bola Italia (FIGC), Milan akan memainkan pertandingan berikutnya, melawan Udinese yang akan berlangsung kurang dari dua pekan lagi, tanpa kehadiran penonton.

Sanksi itu, yang dikenakan setelah lagu-lagu itu ditinjau oleh para petinggi disiplin FIGC dijatuhkan di bawah `diskriminasi teritorial,` telah beberapa kali diterapkan pada musim ini.

Baik Roma dan Lazio, serta Inter dan Milan, telah dipaksa menutup beberapa tribun di stadionnya menyusul insiden-insiden serupa.

Milan menjadi pusat perhatian pada badai rasisme musim lalu yang melibatkan mantan penyerangnya Kevin-Prince Boateng, yang meninggalkan lapangan setelah menjadi subyek pelecehan pada pertandingan persahabatan melawan tim dari liga yang lebih rendah.

Namun Galliani, yang klubnya memiliki sejumlah pemain berkulit hitam - termasuk pemain Ghana Sulley Muntari dan penyerang Italia Mario Balotelli - meminta otoritas berwenang untuk menemukan sanksi alternatif.

"Saya benar-benar mencermati bahwa rasisme merupakan masalah besar, ini adalah salah satu hal besar di seluruh dunia," kata Galliani. "Namun diskriminasi teritorial merupakan sesuatu yang berbeda."

"Kami perlu menghapus peraturan itu. Bahkan ketika semua presiden (klub) setuju terhadap hal itu dan saya telah meminta kepada (presiden FIGC) Giancarlo Abete perihal masalah itu."

Galliani menyebut bahwa insiden ini telah melebihi proporsi, dan sikap FIGC hanya akan semakin menyulitkan sepak bola Italia, demikian AFP.
(H-RF)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013