Nairobi (ANTARA News) - Jumlah kematian akibat serangan granat terhadap sebuah minibus di dekat daerah berpenduduk Somalia di ibu kota Kenya pada akhir pekan naik menjadi enam setelah dua orang yang terluka tewas, kata polisi, Minggu.

Serangan Sabtu itu merupakan yang pertama sejak orang-orang bersenjata yang terkait dengan kelompok gerilya Somalia Al-Shabaab menyerbu sebuah pusat perbelanjaan papan atas di Nairobi pada September, menewaskan 67 orang.

Pemboman terhadap minibus itu mengulangi serangan-serangan serupa tahun lalu yang juga dituduhkan pada kelompok gerilya Somalia, yang menuntut penarikan pasukan Kenya dari Somalia.

"Jumlah kematian naik menjadi enam setelah dua orang lagi tewas kemarin malam," kata Benson Kibui, kepala kepolisian wilayah Nairobi, kepada Reuters.

"Kami juga menangkap seorang warga asing terkait dengan ledakan itu," tambahnya.

Ia tidak menyebutkan kewarganegaraan orang yang ditangkap namun mengatakan, penangkapan itu dilakukan di dekat lokasi ledakan, tidak jauh dari daerah Eastleigh Nairobi yang dihuni banyak orang Somalia.

Kepala polisi itu menambahkan, tersangka saat ini masih diinterogasi.

Al-Shabaab mengejutkan dunia dengan serangan di pusat perbelanjaan di Nairobi, yang dimulai Sabtu siang (21 September), ketika orang-orang bersenjata menyerbu ke dalam kompleks pertokoan itu dengan menembakkan granat dan senjata otomatis serta membuat pengunjung toko yang panik lari berhamburan untuk menyelamatkan diri.

Kelompok itu menyandera sejumlah orang dan terlibat dalam ketegangan dengan polisi dan pasukan hingga Selasa (24 September), ketika Presiden Kenya Uhuru Kenyatta mengumumkan bahwa bentrokan telah berakhir dan sedikitnya 67 orang tewas.

Kenya, yang menjadi tempat tinggal banyak warga Somalia, dilanda gelombang serangan, terutama di Nairobi dan kota pelabuhan Mombasa, serta Garissa, setelah pasukan negara itu memasuki Somalia pada Oktober 2011 untuk menumpas kelompok gerilya garis keras Al-Shabaab, yang mereka tuduh bertanggung jawab atas penculikan dan serangan bom di dalam wilayah Kenya.

Pasukan Kenya menyerang pangkalan-pangkalan Al-Shabaab sejak dua tahun lalu dan kemudian bergabung dengan pasukan Uni Afrika berkekuatan 17.700 orang yang ditempatkan di Somalia.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah Somalia dukungan PBB.

(Uu.M014)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2013