Kairo (ANTARA News) - Sedikitnya empat orang tewas saat bentrokan antara pendukung Ikhwanul Muslimin dan polisi berkobar di Mesir pada Jumat (17/1), kata beberapa sumber keamanan.

Kekerasan itu meletus sehari sebelum pemerintah Mesir diharapkan mengumumkan hasil resmi referendum pekan ini mengenai konstitusi baru, bagian dari rencana transisi yang didukung militer di negara paling padat di dunia Arab itu.

Satu orang tewas akibat tembakan di Kota Fayoum, sebelah selatan Kairo, kata seorang pejabat Kementerian Kesehatan kepada kantor berita Reuters.

Tiga orang tewas dalam bentrokan di wilayah Kairo, kata sumber-sumber keamanan. Dua ditembak dan satu lainnya tidak jelas penyebab kematiannya.

Menurut laporan kantor berita MENA, para pendukung Ikhwanul juga bentrok dengan pasukan keamanan di Kota Suez serta Ismailia dan sejumlah lokasi di Ibu Kota, kata sumber-sumber di keamanan.

Di Sinai tengah, orang-orang bersenjata menyebabkan ledakan pipa pemasok gas alam ke satu zona industri.

Tidak ada yang terluka dalam kejadian tersebut. Tetapi ledakan pipa mengganggu pasokan gas ke beberapa pabrik di daerah itu.

Perdana Menteri sementara Hazem el-Beblawi mengutuk serangan pada pipa itu dan bersumpah akan menghukum kejahatan-kejahatan demikian dengan kekuatan.

Otoritas negara runtuh di bagian semenanjung Sinai setelah jatuhnya presiden veteran Hosni Mubarak pada tahun 2011, memungkinkan kelompok-kelompok garis keras untuk memperluas pengaruh dalam masa vakum.

Serangan terhadap polisi dan tentara di semenanjung, yang berbatasan bersama dengan Jalur Gaza Palestina dan Israel, bertambah intensif setelah militer menggulingkan presiden dari kubu Islam Mesir, Mohamed Moursi, bulan Juli lalu di tengah protes massa terhadap pemerintahannya.

Pasukan keamanan Mesir telah menangkap ribuan orang dan menewaskan ratusan pendukung Ikhwanul sejak penggulingan Moursi, pemimpin pertama Mesir yang terpilih secara demokratis, dan bulan lalu mereka menyatakan kelompok itu sebagai "organisasi teroris".

Ikhwanul Muslimin, yang menyatakan berkomitmen melakukan aktivitas secara damai, tidak berhasil mendesak boikot terhadap referendum mengenai konstitusi baru.

Media pemerintah, mengutip perkiraan awal, mengatakan sekitar 95 persen pemilih mendukung konstitusi baru, yang akan mengganti konstitusi lama yang disetujui di bawah Moursi dan akan memperkuat badan-badan negara yang menentang dia: tentara, polisi dan peradilan.

(Uu.H-AK)

Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2014