Cara Kadin Indonesia genjot produktivitas petani sawit

Cara Kadin Indonesia genjot produktivitas petani sawit

Ilustrasi. Petani kelapa sawit menimbang hasil taninya di perkebunan kelapa sawit rakyat, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat.(ANTARA/Iggoy el Fitra)

Bali (ANTARA News) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan telah menginisiasi sebuah inovasi skema pembiayaan bagi satu juta petani kelapa sawit agar dapat menggenjot produktivitas. 

"Kadin telah menginisiasi skema pembiayaan di mana Kadin akan menolong petani dengan cara mengatur pembiayaan dari bank melalui koperasi yang akan berdampak pada pemberian pinjaman dengan bunga lebih terjangkau bagi petani sawit," kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Agribisnis dan Pangan Franky Oesman Widjaja di sela-sela acara International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) 2014, di Bali, Rabu. 

Franky mengatakan bank yang telah berkomitmen memberikan pembiayaan kepada petani sawit yakni Bank Mandiri melalui koperasi dan perusahaan penjamin. 

Dia menjelaskan saat ini dari total 9,2 juta hektar lahan sawit di Indonesia, sebanyak 49 persennya dikelola sektor swasta, 43 persen (empat juta hektar) dikelola petani, dan delapan persen dikelola BUMN. 

"Dari empat juta hektar yang dikelola petani itu, dua juta hektar diantaranya dikelola petani secara independen (bukan melalui sistem pengelolaan inti plasma), dan hanya menghasilkan dua juta ton minyak sawit per hektarnya," kata dia. 

Menurut Franky dengan skema pembiayaan yang digagas Kadin, petani sawit akan mudah mendapatkan dana untuk meningkatkan produktivitas lahan sawitnya. 

"Caranya nanti dua juta hektar lahan sawit yang dikelola petani secara independen itu akan dilakukan replanting (penanaman ulang), dengan melibatkan satu juta petani sawit. Diperkirakan hasil perkebunan sawit yang dikelola petani itu dari dua ton minyak sawit per hektar akan menjadi enam ton minyak sawit per hektar," ujar dia. 

Selain itu menurut dia, pada gilirannya pendapatan secara keseluruhan dari perkebunan sawit milik petani akan bertambah sekitar empat hingga lima miliar dolar AS, dengan pertimbangan harga minyak sawit mentah sebesar 800 dolar AS per ton. 

"Jika dua juta hektar lahan petani bisa dimaksimalkan, maka ini mencegah pembukaan satu juta hektar lahan baru untuk perkebunan sawit," kata Franky.

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar