Lahar beku di Blitar jadi obyek wisata

Lahar beku di Blitar jadi obyek wisata

Dokumen foto seorang warga melintasi luapan lahar dingin material Gunung Kelud di Kali Badak, Desa Gambar Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. (ANTARA/Eric Ireng)

"Tempat ini kami buka untuk kunjungan wisata sejak Senin (24/2)..."
Blitar (ANTARA News) - Lahar beku berbentuk kumpulan batuan yang menyumpal Sungai Kaliputih di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, hingga ketebalan sekitar 40 meter saat ini menjadi obyek wisata baru yang ramai dikunjungi masyarakat.

"Sehari pengunjungnya bisa mencapai ribuan. Mereka silih berganti datang ke sini karena penasaran dengan lahar beku yang membendung sungai aliran lahar Kelud sehingga Blitar terhindar dari ancaman lahar dingin sejauh ini," kata Bajang, kepala keamanan di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Sabtu

Warga dari berbagai penjuru pada Sabtu ini daerah terlihat berbondong-bondong mendatangi salah satu sungai aliran lahar yang terhubung langsung dengan kawah Gunung Kelud hingga radius dua kilometer dari pusat erupsi.

Tidak hanya menonton dari atas tebing sungai yang curam dengan kedalaman 200-an meter, banyak orang yang rata-rata berasal dari wilayah Blitar dan sekitarnya itu turun ke dasar sungai dan menyusuri gunungan lahar beku yang menyumpal hulu Sungai Kaliputih.

Di ujung tumpukan material vulkanik yang diyakini sebagai lahar beku Gunung Kelud, sejumlah warga dan tenaga keamanan setempat menyediakan jasa parkir kendaaraan sepeda motor, sehingga wisatawan yang datang bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Warga sekitar di Desa Karangrejo dan Sidodadi, Kecamatan Garum, banyak yang bercerita bahwa gunungan material vulkanik yang membendung Sungai Kaliputih membentang mulai mulut kawah, hulu, hingga memasuki kawasan hilir yang berjarak sekitar tujuh kilometer.

Sungai purba yang terbentuk sejak jutaan tahun silam akibat aktivitas letusan dan aliran lahar Gunung Kelud itu kini terlihat aliran batu material vulkanik.

Dasar sungai yang semula berupa batu pasir warna hitam kini tertutup jutaan meter kubik batu apung bercampur belerang yang sebagian masih terus mengepulkan asap dengan bau menyengat.

Ratusan yang datang terlihat menaiki gunungan lahar beku tersebut dan menyusurinya hingga mendekati hulu sungai, dan di antara mereka mengabadikannya menggunakan aneka alat perekam video maupun kamera foto serta telepon seluler (ponsel).

"Tempat ini kami buka untuk kunjungan wisata sejak Senin (24/2) setelah statusnya resmi diturunkan dari siaga menjadi waspada," kata Kusno, salah satu tenaga jasa parkir di Sungai Kaliputih.

Gunung Kelud mengalami erupsi pada Kamis (13/2) malam sekitar pukul 22.50 WIB dan memuntahkan jutaan kubik material vulkanik.

Serangkaian erupsi yang menyebabkan hujan abu dan batu di berbagai daerah, bahkan hingga Jawa Barat itu menyisakan keunikan tersendiri bagi warga Blitar dan sekitarnya.

Berbeda dengan yang dialami masyarakat Kediri dan Ngantang, Malang yang terdampak parah, di kawasan Blitar justru nyaris tidak begitu terpengaruh dengan letusan Gunung Kelud.

Material vulkanik yang menghujani kawasan ini hanya berupa kerikil kecil dengan ketebalan tidak lebih dari satu sentimeter di wilayah radius di atas 10 kilometer dari pusat erupsi. (*)

Pewarta: Slamet Agus Sudarmojo
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar