Jerusalem, (ANTARA News) - Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menolak gencatan senjata dalam perang melawan HAMAS, yang gagal mengakhiri serangan roket Gerakan Perlawanan Islam tersebut, kata seorang pejabat tinggi di kantor PM Israel itu setelah Olmert bertemu dengan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Senin.

"Hasil operasi itu harus berupa ... bahwa HAMAS bukan hanya harus menghentikan penembakan tapi tak boleh dibiarkan bisa melepaskan tembakan," kata Olmert kepada Sarkozy sebagaimana dikutip AFP dan Reuters.

"Kami tak dapat menerima kompromi yang akan memungkinkan HAMAS melepaskan tembakan dalam dua bulan terhadap berbagai kota kecil Israel," kata Olmert sebagaimana dikutip.      

Sarkozy memulai kunjungan penengahan perdamaian ke Timur Tengah dengan menyerukan gencatan senjata pada Senin antara tentara Israel dan anggota HAMAS, yang terlibat pertempuran di Jalur Gaza.

Pada paruh pertama kunjungan dua-harinya ke wilayah tersebut, Sarkozy mengatakan Israel "memiliki tugas untuk meningkatkan situasi kemanusiaan di Jalur Gaza, tapi HAMAS juga harus disalahkan karena melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan roket ke Israel".

"Israel harus mengambil resiko bagi perdamaian," kata Sakozy dalam pertemuan dengan Presiden Israel Shimon Peres, Senin malam, setelah itu ia bertemu dengan Olmert.

Sarkozy mendapat pujian luas selama negaranya memangku jabatan bergilir enam-bulan Presiden Uni Eropa tahun lalu karena menengahi gencatan senjata antara Rusia dan Georgia dan karena perannya dalam menanggulangi krisis keuangan global.

Namun sebelumnya telah diduga bahwa tak ada tanda ia dapat membantu menghasilkan terobosan bagi konflik Jalur Gaza.

Serangan militer Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 540 orang dalam 10 hari, dan para pemimpin Israel telah menjelaskan mereka takkan tergesa-gesa menarik pasukan darat dan pasukan udara kendati ada peningkatan tekanan internasional.(*)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009