Kiev (ANTARA News) - Lebih dari 20.000 orang Rusia telah dilarang memasuki Ukraina sejak Maret, kata juru bicara Layanan Perbatasan Negara Ukraina, Jumat.

"Lebih dari 200 warga yang berpikiran secara radikal juga ditolak masuk," kata kantor berita UNIAN mengutip pernyataan Sergei Astakhov, seperti dikutip.

Setelah beberapa pekan apa yang disebut demo massa Maidan, Ukraina mengalami perubahan rezim pada Februari ketika parlemen Ukraina didukung oleh gerakan sayap kanan menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, negara mengubah konstitusi dan pemilihan awal yang dijadwalkan 25 Mei.

Bulan lalu, Ukraina melarang pria Rusia berusia 16-60 tahun untuk memasuki negara itu, dengan pengecualian termasuk laki-laki yang bepergian dengan kerabat perempuan atau anak-anak, atau mereka yang memiliki dokumen mengkonfirmasikan undangan dari kerabat dekat atau penyakit serius atau kematian dalam keluarga.

Pihak berwenang di Kiev untuk sementara menutup perbatasan dengan Krimea, Senin.

Maskapai penerbangan terbesar Rusia, Aeroflot, telah mengumumkan juga membatalkan penerbangan ke Kharkiv, di Ukraina timur, tetapi menolak izin untuk memasuki wilayah udara negara itu.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan larangan itu keterlaluan dan menyebut tindakan tersebut adalah bagian dari pemerintah Ukraina "yang secara jelas diskriminatif dan tidak bersahabat."

Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan pada awal bulan ini bahwa pihaknya tidak mengubah aturan masuk untuk warga Rusia, dan mengklaim itu hanya memperkeras kontrol perlintasan perbatasan. Demikian laporan RIA Novosti.

(Uu.H-AK)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2014