Yogyakarta (ANTARA News) - Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Republik Indonesia mendorong perajin di Yogyakarta untuk mengutamakan pembuatan kerajinan menggunakan bahan baku alam.

Direktur Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Republik Indonesia (Apikri) Amir Panzuri di Yogyakarta, Sabtu, mengatakan negara-negara tujuan ekspor seperti Eropa hingga kini masih menggencarkan kampanye penggunaan produk alam atau produk ramah lingkungan.

"Meskipun dampak krisis finansial masih terasa di Amerika Serikat dan Uni Eropa namun sensitivitas terhadap produk yang tidak berpihak dengan lingkungan masih kuat," katanya.

Oleh sebab itu, menurut dia, hal tersebut masih menjadi peluang bagi perajin Indonesia untuk menggencarkan produksi kerajinan dengan bahan baku alam.

Apalagi, Indonesia merupakan negra yang memiliki persediaan bahan baku alam potensial melimpah.

Kekayaan alam untuk kerajinan khas Indonesia, menurut dia, juga dapat menjadi salah satu produk andalan dalam persaingan di Pasar ASEAN pada 2015.

Bahan baku yang sering dan dapat ditemui di Yogyakarta, misalnya mendong, daun pandan, pelepah pisang. Jenis bahan baku tersebut termasuk yang digemari "buyer" asal Eropa.

Apikri sebagai asosiasi usaha kerajinan, konsisten mengampanyekan pembuatan kerajinan berbahan ramah lingkungan, hingga Maret 2014 telah mendapatkan keuntungan 90 persen dibanding 2013. Saat ini rata-rata omzet mencapai Rp300-Rp350 juta per bulan.

"Peningkatan omzet juga kemungkinan disebabkan semakin meningkatnya peminat produk berbahan baku alam," katanya.

Meski demikian, untuk menjaga keseimbangan alam, para perajin juga perlu memiliki kepedulian untuk melakukan peremajaan bahan baku alam.

"Sudah semestinya menjadi kewajiban para perajin untuk melakukan peremajaan bahan baku, bukan hanya mengutamakan keuntungan materi semata," kata dia.
(KR-LQH/I007)

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2014