Pemain muda butuh kompetisi

Pemain muda butuh kompetisi

Mantan atlet Sepakbola Ricky Yacobi (paling depan) bersama sejumlah pelari membawa api obor SEA Games XXVI. (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf) ()

Jakarta (ANTARA News) - Mantan pesepak bola nasional Ricky Yacobi berpendapat kemampuan dan jam terbang pemain muda harus diasah lewat kompetisi-kompetisi sesuai umur demi menghasilkan generasi baru yang dapat mengharumkan nama Indonesia di internasional.

"Butuh perhatian pengurus sepak bola daerah untuk membuat kompetisi sesuai umur agar lulusan sekolah sepak bola tahu kemana kelanjutannya," kata Ricky kepada Antara di Jakarta, Selasa.

Generasi baru, katanya, bisa dicari lewat berbagai sekolah sepak bola (SSB) yang dinilainya semakin menjamur.

Namun, dia khawatir bila pertumbuhan SSB tidak dibarengi dengan wadah kompetisi maka masa depan lulusannya tidak jelas.

Lewat kompetisi, bakat-bakat pemain muda yang menjadi cikal bakal tim nasional akan terlihat sehingga memudahkan regenerasi pemain sepak bola Indonesia.

"Misalnya di Manchester United, pemain yang masuk adalah pemain pilihan terbaik dari kota itu yang telah lolos kompetisi. Nah, kita tidak ada wadah seperti itu, bagaimana bisa mendapat bibit baik?" tukas pemain yang membawa Indonesia meraih medali emas SEA Games 1987.

Ricky pun berupaya mencetak bibit-bibit lewat sekolah Sekolah Sepak Bola Ricky Yacobi yang didirikannya sejak 1999. Pemain yang membawa Indonesia menjadi empat besar dalam Asian Games 1986 di Korea Selatan itu mengaku tidak ada seleksi khusus dalam menerima siswa baru.

"Saya ingin memberi kesempatan pada anak-anak yang ingin bermain bola, tetapi bila ada pertandingan tentu dipilih yang terbaik," kata pemain yang pernah memperkuat klub Arseto Solo itu.

Pria yang mengaku melatih anak-anak sebagai bentuk kecintaannya pada sepak bola itu tidak memperlakukan SSB miliknya sebagai ajang bisnis. Dibanding SSB lain yang mematok tarif hingga jutaan rupiah, Ricky menetapkan uang bulanan sebesar Rp115.000.

Ada pula beasiswa bagi siswa yang ingin belajar sepak bola namun kondisi keuangannya terbatas.

"Kadang banyak nombok. Tapi minimal saya senang melihat anak-anak dan para pelatih, setidaknya ada pelajaran yang bisa mereka dapat saat bermain bola," kata pria yang dibeli Klub Matsushita Jepang pada 1988 itu.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar