Washington (ANTARA News) - Pesawat tempur Amerika Serikat akan segera diterbangkan dari sebuah pangkalan di wilayah Kurdi di Irak utara sebagai bagian dari operasi udara "yang lebih agresif" terhadap para jihadis Negara Islam (IS), kata Pentagon, Kamis.

Digunakannya pangkalan udara Arbil itu menunjukkan AS memperluas serangan terhadap milisi-milisi IS, kendati helikopter-helikopter penyerang sudah mulai beterbangan dari pangkalan-pangkalan di Irak.

Juru bicara Pentagon Laksamana Muda John Kirby membenarkan bahwa pesawat AS "yang berawak dan dipersenjatai" akan terbang dari Arbil, ibu kota wilayah otonomi Kurdi di Irak, namun ia menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.

Jet-jet tempur Amerika serta pesawat-pesawat tempur lainnya yang membombardir milisi-milisi IS di Irak sebelumnya telah terbang dari pangkalan-pangkalan serta dari kapal-kapal induk di luar wilayah Irak.

Lapangan terbang di Arbil akan memberi akses lebih mudah bagi jet-jet tempur ke garis tempur, kata seorang pejabat departemen pertahanan kepada AFP.

Pesawat-pesawat tempur memiliki jarak yang lebih pendek dibandingkan pesawat pemboman atau pengintai, dan menggunakan pangkalan terdekat memberikan waktu yang lebih banyak untuk mencapai target serta mengurangi keharusan pengisian bahan bakar secara berkala, kata pejabat tersebut.

Pentagon tidak mengatakan pesawat "berawak" tipe apa yang diterbangkan atau berapa banyak pesawat yang akan dikerahkan di Arbil.

"Masih ada sejumlah keputusan yang belum dibuat soal penyelesaian yang tepat," kata Kirby kepada para wartawan.

Namun, ia menyiratkan bahwa serangan-serangan bom AS di Irak --yang dimulai pada 8 Agustus-- akan diperluas dengan dukungan dari pemerintah Irak dan pasukan Kurdi yang memerangi para milisi IS.

"Jenis dukungan yang kita akan berikan kepada pasukan Irak akan dilakukan lebih agresif dari udara," kata Kirby tanpa memberikan rincian.

Kirby memberikan komentar-komentar tersebut satu hari setelah Presiden Barack Obama menyatakan janji untuk melancarkan perang "tanpa henti" terhadap IS di Irak dan Suriah, yakni di bawah rencana yang akan bertumpu pada kekuatan udara AS.

Rencana itu juga termasuk mempersenjatai dan melatih pasukan lokal yang memerangi para jihadis.

Sejak 8 Agustus, pesawat AS telah melancarkan serangan bom sebanyak 156 kali di Irak, sebagian besar serangan itu menargetkan milisi-milisi IS yang mengancam bendungan Mosul.

Strategi Obama mengharapkan adanya bantuan lebih banyak bagi pasukan lokal di Irak dan pejuang pemberontak "moderat" di Suriah, dengan tambahan 475 tentara yang dikerahkan sebagai "penasihat" bagi pasukan Irak atau untuk memberikan dukungan.

Tambahan tentara itu, yang akan menjadikan jumlah total pasukan AS di Irak menjadi 1.600 personel, akan mulai tiba di Irak "minggu depan," kata Kirby.

Sekira 125 personel dari pasukan tambahan itu akan termasuk awak serta petugas pemelihara bagi pesawat-pesawat yang beroperasi di luar Arbil.

Tidak seperti ketika perang yang melibatkan militer AS di Irak dari 2003 hingga 2011, pasukan Amerika di Irak saat ini diterjunkan untuk memberikan pengamanan bagi para diplomat Amerika serta membantu pasukan Irak, kata para pejabat.

Tidak akan ada tentara yang dilibatkan untuk misi tempur, kata Kirby, demikian laporan AFP.

(Uu.T008)

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014