Beirut (ANTARA News) - Pemberontak Suriah dipimpin oleh loyalis Al-Qaida melancarkan serangan besar di kota yang dikuasai pemerintah, Idlib, Senin, dalam upaya mengkonsolidasikan kontrol mereka atas daerah baratlaut, kata kelompok pemantau.

Pemberontak menguasai sebagian besar Provinsi Idlib di awal tiga setengah tahun perang saudara, tetapi tentara yang telah keluar dari ibu kota provinsi, dipasok kembali melalui udara.

Para pejuang cabang Al-Qaida Front Al-Nusra dan satuan-satuan gerilyawan Islam menyerang kota dari semua sisi, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

"Sejak subuh, pertempuran sengit telah berkecamuk di pos pemeriksaan militer di seluruh kota Idlib," kata kelompok pemantau berbasis di Inggris, yang memiliki jaringan luas sumber di Suriah itu.

Setidaknya lima pejuang pemberontak tewas, kata Observatorium, dan menambahkan bahwa tidak ada penjelasan langsung mengenai kerugian di pihak tentara.

Pemberontak melakukan upaya sebelumnya untuk menguasai kota itu pada awal tahun ini, tetapi serangan Senin "belum pernah terjadi sebelumnya, terbesar sejak awal pemberontakan" pada tahun 2011, kata Direktur Observatorium Rami Abdel Rahman kepada AFP.

Abdel Rahman mengatakan bahwa para pemberontak telah mengaktifkan sel-sel tidur di dalam Idlib untuk memulai serangan terhadap tentara di belakang garisnya.

Dia mengatakan polisi yang bersimpati dengan pemberontak bergabung dengan pemberontak dalam serangan berani pada bangunan resmi penting di dalam kota.

"Polisi yang didukung oleh anggota sel tidur Al-Nusra, sudah di dalam kota, menyerang gedung Gubernuran tetapi mereka dengan cepat didorong kembali keluar oleh pasukan rezim, " kata Abdel Rahman.

Sebelum perang Suriah pecah, kota Idlib adalah rumah bagi 165.000 orang, tetapi penduduk telah meningkat dengan kedatangan ratusan ribuan orang yang mengungsi dari bagian lain negara itu.

Provinsi Idlib terletak di perbatasan dengan Turki dan telah lama menjadi salah satu rute pasokan utama pemberontak.

Akibatnya, pejuang pemberontak di provinsi umumnya bersenjata yang lebih baik dan dilengkapi daripada rekan-rekan mereka di tempat lain di Suriah, yang menderita kemunduran di tangan rezim tahun ini, demikian AFP.
(H-AK)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2014