counter

Pelajar NU Banyuwangi ikuti pelatihan tanggap bencana

Pelajar NU Banyuwangi ikuti pelatihan tanggap bencana

ilustrasi--Pelajar Sekolah Dasar melindungi kepala dengan tas dan berlindung dibawah meja saat mengikuti simulasi bencana gempa dan tsunami di SD Negeri 2, Banda Aceh, Senin (15/12). Simulasi bencana gempa dan tsunami yang dilaksanakan setiap tahun sekaligus menyambut 10 tahun tsunami Aceh juga mendidik serta melatih pelajar dalam kesiapsiagaan dan meminimalkan dampak bencana. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Para pelajar yang mengikuti pelatihan di lapangan desa Balak, Banyuwangi pada 30-31 Desember 2014 itu menerima pembekalan tentang early warning (peringatan dini) seputar bencana dan pengetahuan keislaman yang moderat,"
Surabaya (ANTARA News) - Sebanyak 50 anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Banyuwangi mengikuti Pendidikan Latihan Pertama (Diklatama) untuk mencetak pelajar tanggap bencana.

"Para pelajar yang mengikuti pelatihan di lapangan desa Balak, Banyuwangi pada 30-31 Desember 2014 itu menerima pembekalan tentang early warning (peringatan dini) seputar bencana dan pengetahuan keislaman yang moderat," kata ketua panitia pelatihan, Nur Wahid, dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Surabaya, Minggu.

Dalam pelatihan yang menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi itu, para pelajar diberi informasi bahwa Indonesia pada umumnya dan Banyuwangi pada khususnya adalah daerah yang memiliki potensi bencana yang besar.

"Karena itu perlu adanya kesigapan dalam menghadapi bencana, baik sebelum, ketika dan pascabencana. Dengan kesadaran akan bencana ini diharapkan pelajar NU memiliki kecintaan dan kepedulian untuk menjaga dan melestarikan alam sekitar," katanya.

Untuk wawasan kebangsaan, panitia menggandeng Polsek dan Koramil Kecamatan Songgon untuk membina para generasi muda untuk mewaspadai ancaman terhadap NKRI yang mulai terang-terangan menunjukkan perlawanannya.

"Saya senang bisa mengikuti acara ini, karena ada beberapa hal baru yang perlu," kata peserta pelatihan, Imam Rofii (16).

Hampir sama dengan itu, 250 mahasiswa dari berbagai universitas di Jawa Timur menerima Beasiswa Sobat Bumi dari Pertamina Foundation untuk mengikuti "SobiCamp 2014" di Ubaya Training Center (UTC), Trawas, Mojokerto, 1-5 Desember 2014.

Dalam acara itu, peserta menerima 350 bibit pohon sebagai pelengkap target 570 juta pohon yang sudah dilakukan Pertamina Foundation. "Ini merupakan salah satu green action sebagai wujud aksi memelihara dan menjaga kelestarian alam," kata Wakil Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Wahyudin Akbar.

Namun, "Green Action" Sobat Bumi Camp 2014 bukanlah kegiatan menanam pohon, lalu ditinggal begitu saja. "Ini harus dilakukan secara berkelanjutan agar pohon yang ditanam tetap hidup dan menghasilkan manfaat untuk lingkungan hidup dan kesejateraan masyarakat yang lebih baik. Inilah yang disebut Gerakan Menabung Pohon," ujar Wahyudin Akbar.

Jika panen, Pertamina Foundation hanya meminta bagian 5 persen dari panen kayu yang dihasilkan. Hasil ini pun akan diputar kembali untuk kegiatan ramah lingkungan lainnya. Sisanya akan dinikmati oleh para relawan yang melakukan gerakan ini.

Dari segi matematis, hasil yang didapat dari gerakan ini sungguh mencengangkan. Jika diasumsikan setiap pohon yang ditanam akan menghasilkan kayu senilai Rp300 ribu, bisa dibayangkan berapa triliun rupiah uang yang dihasilkan dari 570 juta pohon yang ditanam melalui Gerakan Menabung Pohon.

Pewarta: Edy M Ya'kub
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Stafsus Presiden: mahasiswa Papua ingin belajar, jangan diganggu

Komentar