Seoul (ANTARA News) - Korea Utara tampaknya telah mencapai tingkat teknologi yang "signifikan" untuk membuat perangkat nuklir mini yang dapat dipasang di ujung rudal, kata Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Selasa.

"Kemampuan Korea Utara untuk membuat senjata nuklir mini tampaknya telah mencapai tingkat yang signifikan," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Kementerian Pertahanan Korsel menyampaikan peringatan itu pada selembar kertas putih yang dirilis Selasa ini, meski pun para pejabat pertahanan mengatakan Korut sebagai negara pemilik senjata nuklir belum menunjukkan kapasitas miniaturisasi nuklirnya.

Pihak Korea Utara telah melakukan tiga kali tes nuklir, dan tes terakhir kali dilakukan pada Februari 2013.

Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan Korut kemungkinan telah mengamankan sekitar 40 kilogram (88 pon) senjata plutonium dengan pemrosesan ulang sisa batang bahan bakar nuklir, dan menyebutkan bahwa Korut sedang mengerjakan sebuah program nuklir yang kaya dengan kandungan uranium.

Korea Utara sudah menyimpan lama reaktor berkekuatan lima megawatt di kompleks nuklir utamanya Yongbyon pada 2007 di bawah kesepakatan bantuan untuk perlucutan senjata, tetapi Korut mulai merenovasi fasilitas nuklir itu pada pertengahan 2013. Fasilitas tersebut merupakan sumber utama senjata plutonium negara itu.

Korea Utara juga diduga memiliki kemampuan untuk mengembangkan rudal yang bisa mengancam daratan Amerika Serikat, melalui serangkaian uji coba rudal jarak jauh, kata Kementerian Pertahanan Korsel.

Pada 2012, Korut menampilkan kemampuan roketnya dengan mengirimkan sebuah satelit ke orbit, namun Korut belum melakukan tes yang akan menunjukkan bahwa negara itu telah menguasai teknologi re-entry yang diperlukan untuk rudal balistik antar-benua (ICBM).

Meskipun tidak ada keraguan bahwa Korea Utara memiliki program pengembangan rudal balistik yang sangat aktif, para ahli berbeda pendapat mengenai berapa banyak kemajuan yang telah dibuat negara itu.

Kantor berita Korea Selatan Yonhap mengutip pernyataan seorang pejabat Kementerian Pertahanan yang tidak disebutkan namanya. Pejabat itu mengatakan bahwa rudal jarak jauh Taepodong-2 milik Korut diyakini telah meningkat jangkauannya hingga 10.000 kilometer (6.200 mil) dari perkiraan sebelumnya sekitar 7.000 kilometer.

Namun, tidak terdeteksi adanya tanda-tanda bahwa Korea Utara telah menggunakan rudal jarak jauhnya, kata pejabat Kementerian Pertahanan Korsel itu, demikian AFP.

(Uu.Y012)

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2015