counter

NTB tetap eksis ekspor kerajinan buah kering

NTB tetap eksis ekspor kerajinan buah kering

ilustrasi--buah kering. (Pixabay)

Hal paling utama untuk menjaga keberlangsungan bisnis di kerajinan ini sebenarnya adalah bagaimana menjaga kepercayaan pembeli terutama dari luar negeri,"
Mataram (ANTARA News) - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat H Lalu Imam Maliki mengatakan daerah ini tetap eksis mengekspor kerajinan buah kering karena beberapa negara masih berminat terhadap komoditas tersebut.

"Ekspor kerajinan buah kering masih tetap lancar dalam tiga tahun terakhir (2012-2014), meskipun nilai ekspornya cenderung berkurang," katanya di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat.

Pada 2014, kata dia, pihaknya mencatat volume ekspor kerajinan buah kering sebanyak 43.628 ton dengan nilai mencapai 193.900 dolar Amerika Serikat (AS), menurun dibandingkan tahun 2013 sebelumnya yang mencapai 272.626 dolar AS, dengan volume 67.229 ton.

Nilai ekspor pada 2013 juga lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 330.497 ton dolar AS, dengan volume 64.561 ton.

Maliki menyebutkan negara tujuan ekspor kerajinan buah kering pada 2014 adalah Amerika Serikat dengan nilai eskpor mencapai 116.165 dolar AS, Belanda senilai 44.987 dolar AS, dan Jerman senilai Rp32.74 dolar AS.

"Tiga negara itu menjadi tujuan utama ekspor kerajinan buah kering selama kurun waktu tiga tahun terakhir," ujarnya.

Menurut dia, kerajinan buah kering yang sudah dipasarkan ke luar negeri itu memberikan kontribusi terhadap nilai total ekspor NTB pada 2014 yang mencapai 1,1 miliar dolar AS dengan volume ekspor sebesar 720 ribu ton lebih.

Komoditas itu dikirim ke luar negeri oleh tiga eksportir, yakni Koperasi Patuh Jaya, PT Indocraft and Natural dan UD Indonature.

Maliki menilai, pasar di luar negeri untuk berbagai produk kerajinan masih terbuka lebar, namun peluang tersebut belum bisa digarap secara optimal oleh para pengusaha kerajinan di NTB.

Hal itu tidak lepas dari berbagai kendala seperti mutu dan desain yang kurang memenuhi selera pasar, kurangnya pengetahuan para pengusaha kerajinan tentang perdagangan luar negeri dan masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia, khususnya penguasaan teknologi, manajemen, wawasan bisnis terkait dengan pendidikan perajin.

"Hal paling utama untuk menjaga keberlangsungan bisnis di kerajinan ini sebenarnya adalah bagaimana menjaga kepercayaan pembeli terutama dari luar negeri," ujarnya.

Upaya yang dilakukan agar pengusaha memahami karakter pembeli dari luar negeri, kata Maliki, adalah dengan memfasilitasi kegiatan temu wicara dengan para pengusaha maupun produsen dalam rangka meningkatkan kualitas produk.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan pengetahuan para pengusaha mengenai informasi perdagangan luar negeri serta memotivasi semua pihak untuk membantu para pengusaha bisa mengikuti pameran berskala internasional.

Pemerintah Provinsi NTB terus berupaya membantu pengusaha untuk mempromosikan produk kerajinannya terutama di tingkat dunia, melalui Badan Pelayanan Pengembangan dan Promosi Ekspor Daerah (BP3ED) Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

"BP3ED bahkan sudah bekerja sama dengan Japan External Trade Organization (Jetro) untuk membantu pengembangan sekaligus pemasaran produk kerajinan NTB, khususnya di negeri Sakura itu," ujarnya.

Pewarta: Awaludin
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Rakernas MUI mendorong NTB sebagai pusat wisata halal Internasional

Komentar