Indonesia masih peralihan dari cetak ke online

Batam (ANTARA News) - Anggota Dewan Pers Muhammad Ridlo Eisy menilai pembaca di Indonesia masih dalam masa peralihan ke media online sehingga produk media cetak masih bertahan.

Ia meyakini media cetak masih eksis dan dipercaya.

"Sampai saat ini masih optimistis karena orang masih mau bayar iklan mahal di cetak daripada online," kata Ridlo, di Batam, Kepulauan Riau, Selasa.

"Saat ini pembaca masih belajar, dalam peralihan dari media cetak ke online. Maka media cetak sebisanya, selama mungkin. Pada waktunya nanti ketika orang mau bayar iklan mahal di online, maka media cetak akan tutup," jelasnya.

Ia mengatakan masa transisi tersebut berlangsung cukup lama meskipun pada tahun 2008-2009, banyak korban dari media cetak di Amerika Serikat yang berguguran sampai muncul istilah "Newspaper Death Watch".

Namun, di Indonesia masih banyak orang yang memilih media cetak karena lebih terpercaya dan memiliki kredibilitas. Hal ini karena media online yang sering mengutamakan kecepatan kerap tidak akurat.

"Sampai saat ini orang Indonesia lebih memilih media cetak karena lebih mudah dilihat, terpercaya, lebih detail, dan berkredibilitas," ujarnya.

Ia menambahkan, perkembangan media online belum diikuti jumlah pendapatan yang menguntungkan.

Sebagai contoh, katanya, Kompas sebagai salah satu media terbesar di Indonesia hanya mendapat pemasukan 5 persen dari media online dari total pendapatan media cetak.

"Media online paling susah cari uangnya. Pengakuan teman-teman Kompas, pendapatan online-nya tidak ada lima persen dari cetaknya," jelasnya.

Adapun, media cetak yang diprediksi paling lama bertahan, lanjutnya, justru media lokal.

Pewarta: Monalisa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar