Semarang (ANTARA News) - Jemaah salat Idul Adha di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Minggu, sebelum melaksanakan shalat Ied, mendoakan para korban KM Senopati yang tenggelam di perairan sekitar Pulau Mandalika, Kabupaten Jepara, Sabtu (30/12). Pembacaan doa yang dipimpin anggota Badan Pengelola MAJT, H. Achyani dengan surat Al-Fatihah itu mengharap para korban KM Senopati mendapat pertolongan Allah SWT. Wakil Gubernur Jateng Ali Mufiz, Kepala Kanwil Depag Jateng Masyhudi bersama ribuan umat Islam Kota Semarang dan sekitarnya melaksanakan salat Idul Adha di MAJT dengan imam KH. Zainuri Ahmad dan khatib Hasan Toha Putra. Dalam khotbah, Hasan Toha mengajak jemaah agar mampu menghayati dan meniru perilaku Nabi Ibrahim, belajar dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya. Nabi Ibrahim dipilih Allah menjadi seorang manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya menjadi manusia sempurna justru ketika perjuangan dan kesabarannya dilalui secara ikhlas dan teruji di hadapan Allah. Nilai kejuangan dan sikap rela berkorban telah tampak pada diri Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sikap pantang menyerah yang ditunjukkan Nabi Ibrahim menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sifat pantang menyerah dan terus berjuang dalam kesabaran menurun pada anak sehingga Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Kesabaran Ismail sebagaimana dibuktikan ketika pada suatu saat Nabi Ibrahim diberi perintah oleh Allah untuk menyembelihnya. "Inilah yang diujikan Allah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpinya semata-mata untuk mentauhidkannya," katanya. Pada bagian lain, ia juga mengatakan sifat-sifat egoistik kini menjangkiti sebagian perilaku masyarakat. Perasaan paling benar dan paling kuat nmenyelimuti alam pikir. Masyarakat mudah tersulut amarahnya ketika kepentingannya tidak tercapai. Kepedulian terhadap kaum duafa sangat kering, yang ada justru memperbanyak pundi-pundi uang dengan cara apa pun dan melalui pintu mana pun, yang penting dirinya pusas. Oleh karena itu, ia mengajak jemaah melepaskan sifat egoistik yang bersemayam di kalbu. Semangat juang dan rela berkorban untuk Allah yang telah ditunjukkan Nabi Ibrahim dan keluarganya wajib dijadikan contoh nyata, katanya. Seusai shalat Idul Adha dilanjutkan dengan pemotongan ternak kurban yang diperoleh dari jemaah MAJT dengan total ternak kurban tahun 1427 H sebanyak 10 sapi, satu kerbau, dan 20 kambing. Sementara itu, pelaksanaan salat Idul Adha di halaman Balai Kota Semarang, Minggu, berlangsung khidmat. Ribuan umat Islam di kota ini mengikuti salat Idul Adha mulai pukul 06.00 WIB yang dihadiri Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip dan Wakil Wali Kota Semarang, Mahfudz Ali dan anggota DPRD Kota Semarang. Bertindak imam dan khatib Kepala Depag Kota Semarang, Agus Sholeh. Ia mengajak umat Islam memperkokoh semangat pengorbanan dengan cara menyadari betapa besarnya nilai pengorbanan seseorang akan tumbuh dan semakin kokoh semangatnya untuk berkorban. Meskipun yang kurban itu nilainya kecil dan jika dilakukan sesuai kemampuannya, nilai pahalanya tetap akan menjadi besar. Persoalan sosial yang dihadapi seperti kemiskinan, pengangguran, krisis kepercayaan, kriminalitas, dan hukum dengan cara mengambil kebijakan dan kekuasaan untuk berkorban dari kepentingan pribadi untuk kepentingan masyarakat umum. Masyarakat Semarang yang sekarang sedang terus membangun perlu pengorbanan agar tercapai visi Semarang sebagai kota metropolitan yang religius berbagai perdagangan dan jasa. Pada akhir tahun 2006, ia mengajak umat Islam Semarang menutup perilaku-perilaku yang kurang baik dan menyongsong tahun 2007 mengisinya dengan amal yang bermanfaat bagi masyarakat.(*)

Pewarta:
Copyright © ANTARA 2006