Hujan Bulan Juni dari Sapardi

Hujan Bulan Juni dari Sapardi

Sapardi Djoko Damono dalam sesi tanda tangan usai peluncuran novel Hujan Bulan Juni di Gramedia Central Park, Jakarta, Minggu (14 Juni 2015). (ANTARA News/Nanien Yuniar )

Semua karya sastra tidak jatuh dari langit."
Jakarta (ANTARA News) - Selang 26 tahun sejak membuat puisi Hujan Bulan Juni,  penyair Sapardi Djoko Damono kini mewujudkan puisi itu ke dalam bentuk novel setebal 144 halaman.

"Di dunia seni, perpindahan bentuk itu biasa sekali," ujar Sapardi di Jakarta, Minggu.

Puisi Hujan Bulan Juni juga sempat muncul dalam bentuk kaset musikalisasi puisi oleh mahasiswa Sapardi di Universitas Indonesia (UI) pada 1994, komik dan juga akan diadaptasi ke dalam layar lebar. Beberapa sajaknya yang lain juga pernah dibuat dalam versi cerita pendek, seperti Sepasang Sepatu Tua.

Novel adalah penafsiran Guru Besar Pensiun (professor emeritus) UI tersebut terhadap puisi Hujan Bulan Juni, dan masing-masing merupakan karya yang berdiri sendiri.

Dalam berkarya, dia kerap mempertimbangkan apakah ide tersebut akan dituangkan dalam bentuk puisi, cerita pendek atau novel. Ide awal itu memudahkan dia mengubah karya sastranya menjadi bentuk yang berbeda.

"Pas baca sajak sendiri jadi ingat mau nulis apa, sumbernya puisi itu," imbuh penyair yang puisinya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Proses mengubah puisi menjadi novel adalah proses kreatif di mana peraih Khatulistiwa Literary Award itu akan terus menerus mengoreksi karyanya bila diperlukan.

"Mungkin kalau terbit lagi, akan saya ubah lagi atau saya tambah baru lagi, itu namanya proses kreatif," ujar guru besar Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang juga mengajar di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung dan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Hujan Bulan Juni ditulis Sapardi dalam kurun waktu kurang dari setahun di sela pengerjaan dua novel lainnya. Selain Hujan Bulan Juni, satu novel telah rampung dan sisanya belum diberi judul.

Setelah pensiun, pemilik akun Twitter @SapardiDD itu mengaku punya banyak waktu untuk menulis novel yang membutuhkan konsentrasi lebih besar ketimbang menciptakan puisi.

"Kalau puisi, nggak usah pensiun sudah bisa, sejam dapat dua juga bisa," ujar pria berusia 75 tahun itu.

Sastrawan yang menulis puisi sejak usia 13 itu tidak menepis ada berbagai pengalaman pribadi yang merasuk dalam setiap tulisannya baik disadari atau tidak, termasuk novel Hujan Bulan Juni.

Peraih Penghargaan untuk Pencapaian Seumur Hidup dalam Sastra dan Pemikiran Budaya dari Akademi Jakarta itu menjelaskan, pengalaman pribadi bukan hanya apa yang pernah dirasakannya, tetapi juga apa yang dialami orang sekitar, ataupun informasi dari media massa.

"Semua karya sastra tidak jatuh dari langit. Yang jatuh dari langit hanya kitab suci. Kalau itu karya orang pasti berdasarkan dari pengalaman dia," jelas penerima penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Presiden RI pada 2002.

Oleh NAN
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar