Penderita skizofrenia tak perlu konsumsi obat jangka panjang

Penderita skizofrenia tak perlu konsumsi obat jangka panjang

ilustrasi Penderita Gangguan Jiwa Dipasung Penyandang gangguan jiwa Mamad (35) dipasung kaki dan tangannya di Dusun Wanasari, Sindangkasih, Ciamis, Jawa Barat, Senin (26/1). Akibat tidak memiliki biaya untuk berobat, Mamad terpaksa dipasung dan dirantai sejak 14 tahun lalu karena sering mengamuk dan memecahkan kaca rumah. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Jakarta (ANTARA News) - Spesialis kesehatan jiwa mengungkapkan, penderita skizofrenia (ODS) berpeluang tak perlu mengonsumsi obat dalam jangka panjang bila gejala penyakitnya itu terdeteksi di episode awal.

"Orang dengan skizofrenia (ODS) perlu mengonsumsi obat jangka panjang. Tetapi bila gangguan ditemukan pada episode awal, pengobatan bisa saja hanya dua tahun, lalu dievalusi apakah obat benar-benar dihentikan," ujar dr. A.A. A. Agung Kusumawardhani, SpKJ(K), di Jakarta, Senin.

Lebih lanjut, bila penderita masih mengalami kekambuhan, maka dokter perlu mengevaluasi setelah lima tahun masa pengobatan penderita.

"Tetapi, kalau berkali-kali kambuh, harus dievaluasi lima tahun. Dia bisa tetap minum obat atau berhenti. Kalau dia menyerang orang atau diri sendiri, walaupun gejala reda, minum obat saja terus," kata dia.

Agung mengingatkan, deteksi dini amat diperlukan agar pengobatan yang dilakukan bisa menghasillkan pemulihan yang lebih baik. Deteksi dini ini biasanya bisa dilakukan bila ditemukan sejumlah gejala seperti seseorang tidak bisa menyampaikan ide secara runut, konsentrasi terganggu, berhalusinasi atau memiliki persepsi inderawiah palsu dan pergolakan emosi.

Kemudian, seseorang mengalami halusinasi seperti seolah-olah mendengar adanya suara. Padahal, suara itu tak terdengar oleh orang lain yang normal.

Lalu, ia merasa yakin orang lain membaca pikiran, mengendalikan pikiran mereka atau bahkan seakan merencanakan untuk menyakiti mereka. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang salah satunya disebabkan berlebihnya jumlah dopamin di otak sehingga proses berpikir penderita terganggu.

 Obat-obatan di sini dibutuhkan untuk mengatasi kelebihan dopamin itu. Selain obat, penderita juga memerlukan terapi psikososial misalnya pemberian bekal keterampilan agar ia siap kembali ke lingkungan sosialnya.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 memperlihatkan, di Indonesia penderita skizofrenia mencapai sekitar 400 ribu jiwa.

"Saya menduga bukan berarti jumlah gangguan sedikit. Mungkin ada masalah stigma di sini, sehingga tidak semua orang melaporkan anggota keluarganya (yang menderita skizofrenia)," kata Agung.

Sementara di dunia, data menunjukkan, prevalensi penderita skizofrenia sebesar 0,7-1,2 persen penduduk dunia. Rata-rata berusia di atas 18 tahun.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Menkes apresiasi pemberdayaan ODGJ berkegiatan produktif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar