counter

Parade budaya Lombok meriahkan "Car Free Day" Bandung

Parade budaya Lombok meriahkan "Car Free Day" Bandung

Dua orang Pepadu (pemain presean) bertarung pada pertandingan presean di taman Udayana Mataram, NTB, Selasa (4/8). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Bandung (ANTARA News) - Parade Kebudayaan Lombok Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), ikut memeriahkan kegiatan hari bebas berkendaraan (car free day) di Jalan Asia Afrika Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu.

Prosesi adat Nyongkolan atau sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada Suku Sasak di Lombok, NTB, menjadi pembuka pada parade tersebut.

Di belakang barisan sosok pengantian perempuan tampak 10 orang pemain Gendang Beleg memukul keras gendang yang dibawanya.

Setelah itu, barisan selanjutnya dalam parade tersebut adalah sosok pengantin pria dari Suku Sasak.

Warga yang hadir di Car Free Day Jalan Asia tertarik oleh atraksi seni bela diri masyarakat Sasak dengan menggunakan sebatang rotan atau Peresean.

Dua warga Sasak tampak saling memukul dengan senjata sebatang rotan dan perisai berbentuk persegi empat yang terbuat dari kulit sapi sebagai pelindungnya.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H Muhammad Amin yang hadir dalam parade tersebut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Bandung dan Pemprov Jawa Barat yang telah memberikan kesempatan kepada pihaknya untuk menampilkan kebudayaan Lombok Sumbawa, NTB.

"Saya sampaikan apresiasi kepada Wali Kota Bandung dan Pemprov Jawa Barat dan seluruh masyarakat Bandung, yang alhamdulillah pada hari ini kami bisa menampilkan tradisi warisan budaya leluhur kami di sini," kata dia.

Pihaknya berharap Parade Lombok Sumbawa Festival 2015 bisa menarik minat masyarakat Bandung dan Jawa Barat untuk berkunjung ke NTB.

"Mudah-mudahan warga Bandung jadi tertarik datang ke Provinsi NTB, khususnya Pulau Sumbawa dan Lombok untuk menikmati kebudayaan kami. Ini bisa mendongkrak sektor pariwisata," kata dia.

Warga Semarang rayakan CFD lewat tukar sampah dengan bibit pohon

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar