Jakarta (ANTARA News) - Malam hari begitu ditunggu-tunggu di Shanghai, kota terbesar di Republik Rakyat Tiongkok dan terletak di tepi sungai Yangtze, sungai terpanjang ketiga di dunia.

Mulai abad ke-19, Shanghai berubah drastis. Pelabuhannya yang menjadi tersibuk di dunia itu membuat kota ini menjadi pusat ekonomi, perdagangan, finansial, dan komunikasi terpenting Tiongkok.

Sejauh mata memandang, hanya ada gedung-gedung tinggi yang menjulang dan jembatan yang menghubungkan kota lama ke kota baru.

Di antara gedung-gedung ini, angkuh menjulang gedung tertinggi kedua di dunia, Shanghai Tower, yang meranggas ke arah langit sampai setinggi 632 meter.

Shanghai memang mempesona, jauh mempesona bila dibandingkan dengan kota-kota lain di Tiongkok.

Tak heran jika kota ini menjadi salah satu tempat wisata favorit sekaligus pusat bisnis di sana.

Biasanya orang-orang akan berkumpul di The Shanghai Bund, tempat paling pas untuk menikmati indahnya Shanghai.

The Bund adalah dermaga di sepanjang Sungai Huangpu, di pusat Kota Shanghai atau di kota baru.

Tempat itu tidak pernah sepi dari turis karena selain menawarkan pemandangan indah Sungai Huangpu, juga membuat pengunjung dimanjakan oleh deretan gedung pencakar langit di seberangnya.

Semakin malam, kota ini semakin tidak bisa redup, malah semakin hidup.

Pemerintah kota ini  mewajibkan setiap gedung menyalakan lampu-lampu gedung hingga pukul 11 malam. Tak ada keberatan dari para pengelola gedung karena biaya listrik memang ditanggung pemerintah.

Pancaran lampu dari deretan gedung tinggi membuat Shanghai berkilau, seperti yang Antara News saksikan Minggu malam tanggal 25 Oktober itu.

Jika Anda tak puas hanya dengan sajian pemandangan seperti itu, naikilah gedung Oriental Pearl TV Tower.

Dari sana keindahan malam Shanghai lebih indah nan syahdu untuk dinikmati.

Bangunan setinggi 468 meter itu dialasi lantai-lantai kaca sehingga siapa pun bisa menikmati pemandangan pusat kota Shanghai dengan sensasi berbeda nan menakjubkan tepat di bawah kaki.

Pengunjung dapat melihat kehidupan Kota Shanghai dengan berdiri di lantai kaca ini, namun butuh nyali untuk menapakinya, apalagi bagi orang-orang yang takut pada ketinggian.

Dan meski berbayaran relatif mahal, 140 yuan atau sekitar Rp308.000 untuk bisa memasuki gedung ini, antrean ke gedung ini tetap saja mengular. Semua berlomba mencapai puncak, terutama saat akhir pekan tiba.

Untuk menuju ke sana, pengunjung akan dikerek lift berkecepatan tinggi yang dapat menempuh setiap ketinggian tujuh hingga sepuluh meter dalam satu detik.

Dan antrean nan panjang itu lunas terbayar begitu tiba di ketinggian 259 meter.

Lampu-lampu berpendar dari deretan gedung tinggi seolah berebut meminta perhatian, sedangkan di bawah gedung, dari balik lantai kaca, cahaya-cahaya itu bagai titik-titik yang bergerak, laksana bintang gemintang di angkasa nun jauh sana.

Dari ketinggian ini, Shanghai terasa magis. Tidak heran mengapa Shanghai disebut sebagai salah satu kota yang memiliki skyline terindah di dunia.






Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2015