New York (ANTARA News) - Harga minyak dunia berakhir turun pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena pasar memperkirakan kenaikan lagi dalam persediaan AS ketika cuaca sejuk membatasi permintaan dan mengirim harga gas alam ke posisi terendah tiga tahun.

Juga menempatkan tekanan turun komentar dari menteri perminyakan berpengaruh Arab Saudi yang menyiratkan negerinya masih enggan untuk menopang pasar, dan ketentuan dalam kesepakatan anggaran tentatif AS untuk menjual 58 juta barel dari Cadangan Strategis Minyak AS selama enam tahun, lapor AFP.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember, merosot 78 sen menjadi menetap di 43,20 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange dibandingkan dengan penutupan Senin.

Minyak mentah Brent North Sea, patokan global, untuk pengiriman Desember turun 73 sen menjadi ditutup pada 46,81 dolar AS per barel di perdagangan London.

Harga WTI sempat turun di bawah 42,60 dolar AS selama perdagangan, terendah sejak Agustus.

"Dukungan di 43,50 dolar AS patah sekarang, ini akan membuka pintu untuk menguji di 40 dolar AS," kata Bill Baruch di iitrader.com.

Baruch juga mencatat bahwa Tiongkok telah menunda pembelian impor "karena mereka percaya harga akan lebih rendah lagi," menjaga pasar tetap lemah.

Para analis yang dikonsultasi Bloomberg memprediksi kenaikan lagi dalam cadangan minyak komersial AS dalam laporan industri dan laporan resmi yang masing-masing akan datang pada Selasa dan Rabu.

Cuaca musim gugur ringan yang melanda sebagian besar AS, ditambah dengan produksi minyak dan gas bumi berlimpah, telah menambah kelebihan pasokan, dengan stok berada di dekat tertinggi sepanjang masa.

Sebuah kesepakatan anggaran yang diusulkan tercapai di Kongres pada Senin sore mencakup ketentuan untuk meningkatkan beberapa miliar dolar dengan menjual bagian dari cadangan minyak mentah strategis AS. Sementara jumlah relatif kecil, membentang lebih dari enam tahun, masih menambah perkiraan pasokan.

Menteri Perminyakan Saudi Ali al-Naimi mengatakan kepada wartawan di Riyadh bahwa negaranya sedang mempertimbangkan pemotongan subsidi BBM dalam negeri yang mempertahankan harga bensin ultra-murah dan mendorong konsumsi domestik lebih tinggi.

Tetapi dia juga mengatakan kepada wartawan, ketika ditanya apakah negaranya akan mengambil tindakan untuk memperkuat harga global, bahwa harga hanya "fungsi dari pasokan dan permintaan."

Sebagai produsen terbesar OPEC dan satu-satunya negara dengan cadangan kapasitas signifikan, Arab Saudi secara tradisional bertindak untuk menstabilkan pasar dengan menyesuaikan produksinya.
(Uu.A026)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2015