Indonesia kekurangan 7.000 ahli teknologi informatika

Indonesia kekurangan 7.000 ahli teknologi informatika

Dokumentasi sejumlah vendor menawarkan berbagai macam produknya dalam ajang pameran Teknologi Informasi (TI) "Makassar Computer Expo 2012" di Celebes Convention Centre, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (31/10). Anggaran sektor TI di Indonesia diprediksi akan mencapai nilai 12,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp. 118,3 triliun. (FOTO ANTARA/Dewi Fajriani)

Jakarta (ANTARA News) - Indonesia kekurangan sebanyak 7.000 tenaga ahli teknologi dan informatika (IT) yang bersertifikasi sebagai profesi yang berkualitas, kata Kepala Sub Direktorat Keamanan Teknologi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika, Riki Gunawan.

"Pemerintah saat ini tengah berupaya untuk membuat sertifikasi profesi dalam menciptakan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Pemerintah juga bermitra dengan swasta dalam mengisi kekurangan 7.000 tenaga ahli IT," kata dia, di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan dalam menciptakan keamanan di dunia maya, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia berkualitas sebagai pelengkap dari infrastruktur TI yang mumpuni untuk mencegah ancaman dalam dunia maya yang kemampuannya juga bertambah maju seiring berkembangnya teknologi.

Terkait dengan SDM ahli teknologi dan informasi, saat ini Indonesia memiliki lebih banyak konsumen dibandingkan dengan pekerja dalam bidang teknologi. 

Merujuk pada pada studi yang menyimpulkan bahwa pertumbuhan penggunaan pita lebar (perluasan jaringan internet) sebesar 10 persen mampu meningkatkan pertumbuhan GDP hingga mencapai 1 persen.

Ia menambahkan, studi ini juga mengelaborasi bahwa dari 1.000 pengguna jaringan pita lebar mampu menciptakan lapangan kerja baru untuk 80 orang.

Partisipasi aktif dari pemerintah dan swasta tidak hanya kan mewujudkan hal ini, namun justru akan melipatgandakan angka ini. Partisipasi aktif ini juga akan menciptakan eksosistem internet yang aman, dan handal di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum of Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (MASTEL) Kristiono mengatakan Indonesia telah menerapkan rencana jaringan pita lebar sejak 2014. Indonesia memiliki potensi yang tidak terbatas.

"Setelah penerapan Indonesia Broadband Plan, Indonesia akan menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di dunia. Namun hal tersebut bukanlah tanpa tantangan," kata Kristiono.

Pertama, katanya, harus dibangun infrastruktur yang mampu menarik lebih banyak pengguna jaringan pita lebar, dengan target mencapai 120 juta penduduk Indonesia.

Kedua, bagaimana menciptakan sebuah ekosistem digital yang aman.

Pada bagian lain, menurut data dari studi yang dilakukan oleh Akamai Technology Firm, Indonesia masih menempati peringkat tiga dalam daftar negara yang memiliki sumber serangan cyber terbesar.

"Maka saya setuju untuk memperkuat kekuatan jaringan cyber di Indonesia agar lebih aman serta terkontrol perkembangannya, mengingat potensi yang ada begitu besar," katanya. 

Pewarta: Afut Syafril
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar