Ribuan elang migrasi melintasi langit Malang raya

Ribuan elang migrasi melintasi langit Malang raya

Penjualan Elang Jawa Petugas menunjukan Elang Jawa (Spizaetus bartelz, kiri) dan Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus, kanan) yang berada dalam sangkar ketika gelar barang bukti tindak pidana konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Senin (6/7). Sebanyak 12 burung Elang berhasil diamankan dari pelaku penjualan burung elng melalui media sosial yakni seekor Elang Brontok (Nisaetus Cirrhatus), seekor Elang Laut Perut Putih (Haliaeestus leugaster), 6 ekor Alap Alap Sapi (Falco moluccensis), 2 ekor anak Elang, seekor Elang Jawa (Spizaetus Bartelz) dan 2 ekor Elang Laut dalam keadaan mati. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru) ()

Malang (ANTARA News) - Ribuan elang dari belahan benua lain bermigrasi untuk menghindari udara dingin sejak September lalu mulai melintasi langit wilayah Malang raya.

Pengamat dari Protection of Forest and Fauna (ProFauna) Indonesia Made Astuti di Malang, Rabu, mengemukakan dari hasil identifikasi, dalam satu hari ada ratusan ekor elang yang melintas di langit wilayah Kota Batu dan Malang demi menghindari musim dingin di negeri asalnya.

"Dalam satu hari, kami berhasil mengidentifikasi sekitar seratus elang yang melintas di atas Gunung Banyak, Kota Batu, namun dalam satu tahun bisa mencapai ribuan ekor dan elang-elang itu bukan hanya melintas, tetapi itu juga bakal tinggal di wilayah Indonesia," kata Made Astuti di Malang.

Ia mengatakan migrasi itu biasanya terjadi pada bulan September sampai November.

Jenis burung yang migrasi ke Indonesia biasanya Elang Alap Tiongkok, Elang Alap Nippon, dan Elang Sikep Madu Asia.

Elang-elang itu menghindari musim dingin menuju tempat yang lebih hangat, sebab saat ini bagian utara bumi sedang musim dingin, sehingga elang ini mencari daerah seperti Indonesia untuk mencari makan.

Made menambahkan, Profauna telah mengamati migrasi elang di Indonesia sejak 1996. Ia melihat, migrasi elang ini menjadi atraksi wisata menarik dan menyalurkan kecintaan terhadap elang.

"Mencintai elang yang benar adalah dengan membiarkannya hidup bebas, bukan dengan melakukan perdagangan elang, baik secara offline maupun online oleh komunitas yang mengaku pecinta elang," ujarnya.

Apalagi, lanjutnya, semua jenis elang saat ini sudah dilindungi undang-undang, sehingga perdagangannya dinyatakan terlarang, bahkan pelaku perdagangan bisa diancam hukuman selama lima tahun.

"Setiap Oktober hingga November tiba, saya selalu menyempatkan diri untuk naik ke atas Gunung Banyak, Desa Songgokerto, Kota Batu, untuk mengamati pergerakan migrasi burung elang tersebut," ucapnya.

Menurut Direktur Petungsewu Wildlife, Education Center (P-WEC) tersebut, elang yang ia amati hanya dapat ditemukan pada bulan Oktober hingga November saja dan pengamatan hanya bisa dilakukan lewat teropong.

Jika diamati dengan mata telanjang, elang itu hanya terlihat sangat kecil karena migrasi elang selalu terbang dengan ketinggian ribuan meter dari laut.

Hanya saja, kata Made, dalam lima tahun terakhir ini jumlah barisan elang yang bermigrasi dan melintasi langit Kota Batu dan Malang itu berangsur-angsur turun.

"Kami belum tahu penyebabnya, apakah ada perubahan rute perlintasan atau burung-burung itu memilih tinggal di kawasan Aceh atau wilayah lainnya. Seharusnya, pada awal November ini jumlah mereka mencapai 300-500 sekali melintas, namun lima tahun terakhir ini jumlahnya menurun drastis," katanya.

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar