Remaja Indonesia tulis soal Islam raih penghargaaan di Inggris

Remaja Indonesia tulis soal Islam raih penghargaaan di Inggris

Perdana Menteri Inggris David Cameron menundukkan kepala bersama polisi setelah upacara tabur bunga di tugu peringatan korban pengeboman London pada 7 Juli 2005 di Hyde Park, pusat kota London, Inggris, Selasa (7/7/15). Saat itu warga Inggris melakukan hening cipta memperingati 10 tahun serangan yang menargetkan transportasi publik London dan menewaskan 56 orang, serangan bom bunuh diri pertama oleh militan Islam di Eropa barat. (REUTERS/Peter Nicholls )

London (ANTARA News) - - Remaja putri Indonesia, Layyina Tamanni (15) yang menyuarakan Islam itu tidak identik dengan kekerasan apalagi terorisme dalam artikel yang dipublikasikan di Koran Gazette dan media online berhasil menjadi pemenang utama dan meraih penghargaan dari anggota Parlemen Colchester, Inggris.

Layyina yang berhasil mengalahkan teman-temannya dari berbagai sekolah di Colchester sangat bahagia saat menerima hadiah berupa Amazon Fire DH8 dan Amazon Voucher untuk sekolahnya, Gilberd School, demikian ibunda Layyina Tamanni, Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc kepada Antara London, Minggu.

Layyina Tamanni mendapatkan First Prize dari Tutor Doctor Colchester North bertempatkan di kantor berita Gazette, Colchester, Inggris, dalam acara pemberian hadiah tahunan yang diserahkan Member of Parliament untuk Kota Colchester, WIll Quince.

Layyina menyampaikan dengan berbahasa Inggris bahwa tulisan yang dimasukkan ke dalam perlombaan jurnalisme muda ini didorong dengan berita di media tentang buruknya citra Islam baru - baru ini. Selaku Muslimah, dia ingin menyuarakan bahwa Islam itu tidak identik dengan kekerasan apalagi terorisme. Artikel yang ditulis Layyina akan dipublikasikan di Koran Gazette dan di media online lainnya.

Kejadian di London mengenai penghinaan wanita Muslimah di dalam bis karena tersangka anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sangat keterlaluan karena digeneralir bahwa Muslim itu jahat, kata Layyina anak sulung dari tiga bersaudara ini.

Walaupun di sekolahnya dia tidak belajar Islam, namun orangtuanya dan pengajian komunitas Indonesia di tempat Layyina tinggal sering memberikan pencerahan Islam mengajarkan kebaikan, kedamaian, kerukunan.

"Ibu dan Ayahku selalu menasehati kami untuk berperikalu baik kepada non-Muslim, tetangga, serta  menunjukkan bahwa kita juga berprestasi dan baik,"ujar Layyina.


Ketika bersekolah di SIT Fajar Hidayah, Layyina, menunjukan hasil survei dalam artikelnya bahwa sejak serangan 9/11, menunjukan hanya tujuh persen Muslim itu digolongkan radikal sedangkan 93 persen lainnya adalah Muslim yang cinta damai. Poin ini menjadi salah satu poin terbesar dalam penilaian lomba jurnalisme yang diikutinya kali ini.

Putri pertama pasangan Dr. Murniati Mukhlisin, dosen akuntansi Islam sedangkan ayahnya mahasiswa S3 di Glasgow, tengah menyelesaikan draft buku tentang cerita fiksi mengenai Global Warming, suatu hal yang sangat memprihatinkan. "Layyina memang suka membaca dan berdiskusi tentang masalah seputar ke-Islaman, yang dijadikannya bahan menulis, ujar Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc.

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar