Entang Wiharso-Sally Smart "berdiskusi" lewat karya seni

Entang Wiharso-Sally Smart "berdiskusi" lewat karya seni

Perupa Entang Wiharso, 49, kelahiran Tegal, Jawa Tengah, berdiri di depan karya seni rupanya berjudul "Promising Land", pada acara pra-pembukaan pameran seni rupa bersama perupa Australia, Sally Smart, yang bertajuk "Conversation: Endless Acts in Human History", di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (14/1). Pameran ini akan berlangsung hingga 1 Februari 2016. ( ANTARA FOTO/Dodo Karundeng)

Jakarta (ANTARA News) - Seniman Entang Wiharso dan Sally Smart, seniman asal Australia memamerkan karya seninya di Galeri Nasional Jakarta dalam pameran bertema "Conversation: Endless Acts in Human History"

Entang Wiharso dan Sally Smart mempresentasikan hasil percakapan mereka terkait perkara sejarah manusia sepanjang zaman melalui seni patung, lukisan dan instalasi yang indah.

"Saya dan Sally memiliki minat yang sejalan dan berbagai ide yang berbeda kerap bermunculan untuk karya kami, seperti tubuh dan organ, perbatasan dan tepian, sejarah, kolonisasi, gambaran seni dan seni politik. Dan kami menggunakan potongan-potongan material sebagai konsep karya kami," kata Entang kepada ANTARA, akhir pekan ini.

Entang melihat persoalan masyarakat dari dalam dan luar. Kondisi kekacauan dalam pandangan Entang merupakan cerminan struktur arsitektural masyarakat. Sally Smart berbicara tentang persoalan bagaimana upaya berdamai dengan masa lalu dan banyak persoalan hidup.

Gambar-gambar yang dibuat oleh Entang Wiharso bercerita menggunakan bahasa visual yang mencerminkan dan menggambarkan tanda-tanda dan ide simbolik tentang budaya, sejarah, masyarakat, negara, sistem, dan pengalaman.

Sally Smart membuat karyanya dengan mengembangkan dan menciptakan ide dari sumber bahan, foto, sastra dan model untuk membangun gambar yang simbolik.

Pameran ini bukan digagas oleh sebuah lembaga, tetapi diprakarsai oleh mereka berdua, baru kemudian sejumlah organisasi mendukung proyek ini.

Semua karya mereka bermuatan opini, yakni suatu pandangan terhadap semua persoalan yang mendasari penciptaan karya mereka. 

Wiharso menyebut karya-karyanya sebagai cara untuk "menggaruk rasa gatal." Sementara Sally menyebut sebagai upaya untuk "menambal sobek (luka) dengan tetap meninggalkan bekasnya."

Menurut salah satu pengunjung, Wawan, karya yang dipamerkan kedua seniman yang berbeda budaya tersebut sangat unik dan bisa dibilang jarang ditemukan.

"Saya ke sini karena kemauan anak saya. Soalnya dia ingin lihat karya seni dari seniman Indonesia dan Australia dan menurut saya hasil yang dipamerkan sangat bagus walaupun teknik pembuatannya bisa dibilang sulit bagi orang awam kaya saya," ujar pengunjung lainnya, Rini.

Pameran ini resmi dibuka pada 14 Januari dan berlangsung hingga 1 Februari 2016 dari pukul 10.00 hingga 19.00 WIB.

Pewarta: Faizah-Tiyo -Arnaz
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar