Penyediaan listrik tak bisa ditunda lagi, kata Presiden

Penyediaan listrik tak bisa ditunda lagi, kata Presiden

Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/OIC-ES2016/Subekti)

Pohuwatu, Gorontalo (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan penyediaan tenaga listrik sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi dalam upaya perbaikan ekonomi.

"Penyediaan listrik tidak bisa ditunda-tunda lagi, tidak bisa investasi yang mau masuk disuruh nunggu ada pasokan listrik dulu, mereka akan pindah ke tempat lain," katanya ketika meresmikan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gorontalo yang berkapasitas 2x50 MW di Kabupaten Pohuwatu, Jumat.

Presiden mengatakan bahwa semua sektor membutuhkan listrik, baik itu industri, manufaktur, pariwisata maupun rumah tangga.

Ia mengatakan akan percuma jika hal lain diperbaiki namun energi listrik tidak cukup tersedia. "Misalnya, sektor izin diperbaiki, tidak akan ada artinya jika tidak ada listrik," ujarnya.

Presiden juga mengatakan bahwa saat ini sudah ada tiga provinsi yang pasokan listriknya aman dengan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas.

"Salah satunya adalah Gorontalo, sudah kelebihan 45 MW, provinsi yang lain masih ngantre," imbuhnya.

Presiden menyebutkan pembangunan pembangkit listrik bertenaga gas lebih cepat dibanding batu bara.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) pembangunannya bisa diselesaikan enam sampai tujuh bulan sementara dengan pembangungan pembangkit berbahan bakar batu bara butuh waktu empat sampau lima tahun.

Presiden juga mengingatkan agar proyek pembangkit listrik di Kabupaten Gorontalo Utara berkapasitas 2x25 MW yang terbengkalai segera diselesaikan.

"Saya titip, di sini masih ada satu yang mangkrak sejak 2007 berkapasitas 2x25 MW di Gorontalo Utara agar diselesaikan sehingga dapat menambah pasokan listrik," tuturnya.

Dana negara yang sudah dikucurkan untuk proyek itu, menurutd dia, mencapai Rp396 miliar. "Janji Dirut PLN akan dirampungkan akhir 2017, ini baru selesai 47 persen, akan saya cek terus," kata Jokowi.

Pewarta: Agus Salim
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar