Kak Seto desak Polda tuntaskan misteri kematian Angelika

Kak Seto desak Polda tuntaskan misteri kematian Angelika

Pemerhati anak Seto Mulyadi (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Pekanbaru (ANTARA News) - Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mendesak penyidik Direktorat Kriminal Umum Kepolisian Daerah Riau segera menuntaskan misteri kematian Angelika, bocah perempuan 11 tahun.

"Temukan dan tangkap pelakunya. Apapun penyebabnya perlu dicari meski kasus ini cukup rumit karena tidak ada saksi," kata Kak Seto Mulyadi kepada wartawan di Pekanbaru, Kamis.

Seto Mulyadi, pemerhati anak yang kerap disapa Kak Seto pada Kamis siang tadi kembali menyambangi Polda Riau untuk yang kesekian kalinya. Dalam beberapa bulan terakhir, dia terus bolak-balik ke Riau guna memantau kasus dugaan pembunuhan yang dialami bocah perempuan 11 tahun di Kampar.

Bocah bernama lengkap Angelika Boru Pardede itu ditemukan tewas jauh dari kediamannya di Siak Hulu, Kabupaten Kampar pada 9 Maret 2016 lalu. Kemudian, selang beberapa hari kemudian atau 23 Maret 2016, ditemukan tulang belulang korban.

Tulang belulang yang disebut cukup aneh karena seluruh jaringan lunak korban habis dalam waktu yang cukup singkat. Meski sempat ada kecurigaan, polisi melalui tim Mabes Polri Jakarta memastikan bahwa tulang itu benar adalah Angelika.

Kak Seto mengatakan kasus tersebut saat ini menjadi atensi sejumlah pihak di Jakarta. Untuk itu, ia berharap Polda Riau dapat segera mengungkap kematian misterius bocah yang dikenal pintar itu.

"Pada dasarnya kita sangat apreasiasi Polda Riau yang terus berusaha mengungkap perkara ini. Harapan kita dapat segera terungkap dan tidak timbul jatuhnya korban lagi," jelasnya.

Sementara itu, diwawancarai terpisah, Dokter Polisi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau, Kompol Supriyanto menerangkan jika fakta pemeriksaan yang dilakukan Bid Dokkes Polda Riau belum dapat menyimpulkan penyebab kematian Angelika. Kondisi penemuan jenazah sudah hancuran dan tulang belulang menyulitkan proses tersebut.

Pewarta: Fazar/Anggi
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Cegah kekerasan anak melalui gerakan sasana

Komentar