counter

PBB suarakan "darurat" pangan di Yaman

PBB suarakan "darurat" pangan di Yaman

Ilustrasi. Pengunjuk rasa mengangkat poster menentang serangan udara yang dipimpin Arab Saudi di Yaman, di depan kantor PBB di Beirut, Lebanon, Selasa (12/5). Serangan udara yang dipimpin Arab Saudi menghantam Sanaa yang dikuasai pemberontak Selasa kemarin, hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata kemanusiaan selama lima hari akan dimulai. (REUTERS/Mohamed Azakir )

Roma (ANTARA News) - Hampir seluruh wilayah di Yaman menghadapi kelangkaan pangan dengan tujuh juta orang dalam situasi "darurat", menurut peringatan sejumlah badan PBB pada Selasa (21/06), seperti dikutip AFP.

Krisis kelaparan yang melanda negara yang didera konflik tersebut kian intensif pada tahun lalu, dan situasinya diperkirakan akan semakin memburuk, ungkap Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organisation/FAO) dan Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) PBB dalam sebuah laporan.

Tiga juta anak berisiko mengalami gizi buruk, ungkap mereka.

"Sedikitnya tujuh juta orang - seperempat jumlah penduduk - hidup di tingkat darurat rawan pangan," ungkap beberapa badan tersebut dalam sebuah pernyataan.

"Ini menunjukkan lonjakan 15 persen sejak Juni 2015. Sebanyak 7,1 juta orang lainnya hidup dalam kondisi krisis,” ungkap mereka, menggunakan sistem peringkat keamanan pangan untuk mendeskripsikan tingkat ancaman tersebut.

"Ini sangat jelas menunjukkan dahsyatnya krisis kemanusiaan di Yaman," ujar Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman Jamie McGoldrick.

"Ini adalah salah satu krisis terburuk di dunia dan terus memburuk," tambahnya.

Konflik, kelangkaan bahan bakar, sejumlah pembatasan terhadap impor serta lonjakan harga gandum domestik menjadi faktor penyebab krisis.

kekurangan bibit dan pupuk telah melumpuhkan produksi tanaman di Yaman dimana petani di sana juga tengah berjuang setelah diporakporandakan oleh angin topan pada November 2015 dan dihantam banjir bandang serta kawanan belalang pada April tahun ini.

Penerjemah: Monalisa
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar