Jadi, angka itu dari operatornya. Tapi, belum detail angkanya."
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi menemui Menteri Koordinator Kemaritiman sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi Sumber Daya Manusia (ESDM) Luhut Binsar Panjaitan.

Dalam pertemuan di Kantor Kemenko Kemaritiman Jakarta, Kamis, Luhut mengaku pertemuan itu membahas banyak hal, termasuk proyek kilang minyak di darat (onshore) Blok Masela.

"Kami banyak bicara. Blok Masela kita singgung," ujarnya.

Luhut menuturkan SKK Migas tengah menghitung kembali biaya pengembangan Blok Masela dengan skema onshore.

Sebelum diputuskan di darat, SKK Migas itu sempat melakukan kajian bahwa kilang di darat lebih mahal daripada kilang terapung di laut (offshore), sehingga sempat menimbulkan polemik.

"Itu sedang dihitung semua sama mereka, karena angka-angka itu ada perubahan, tapi bukan dari Pak Candra," ucap Luhut, merujuk nama mantan Menteri ESDM Arcandra Tahar.

Arcandra Tahar sebelumnya menyebutkan bahwa biaya proyek pengembangan Blok Masela bisa mengalami penurunan cukup signifikan setelah pembicaraan dengan operator Masela, Inpex. (Baca juga: Menteri ESDM: Biaya proyek Masela bisa turun)

Kontraktor migas asal Jepang itu diminta menjelaskan semua rincian biaya proyek Masela kemudian dikoreksi Arcandra dan disetujui kontraktor.

Hasilnya, nilai investasi yang dibutuhkan hanya sebesar 15 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 19,3 miliar dolar AS.

Namun, Luhut mengemukakan rincian biaya tersebut pertama kali setelah Arcandra diberhentikan dengan hormat Selasa (15 Agustus 2016).

"Jadi Pak Candra itu menanyakan ke Inpex, struktur biayanya bagaimana? Inpex keluarkan, lalu dikoreksi Pak Candra dan disetujui Inpex. Makanya, didapat angka 15 miliar dolar AS dan bisa kurang lagi dari itu," tutur Luhut.

Penurunan biaya juga terjadi untuk proyek laut dalam (Indonesian Deepwater Development/IDD) di Selat Makassar yang disebutnya turun dari 12 miliar dolar AS menjadi 7 miliar dolar AS.

"Itu sama juga, ditanya kenapa biaya bisa segini, lalu kontraktor bersedia menurunkan. Jadi, angka itu dari operatornya. Tapi, belum detail angkanya," demikian Luhut Pandjaitan.

Pewarta: Ade Irma Junida
Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2016