Menteri Khofifah: Korban gempa Aceh butuh relawan psikososial

Menteri Khofifah: Korban gempa Aceh butuh relawan psikososial

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa (kiri) mengecek persedian beras untuk memenuhi kebutuhan logistik pengungsi korban bencana gempa Pidie Jaya di Gudang Bulog, Aceh Besar, Aceh, Jumat (9/12/2016). (ANTARA/Irwansyah Putra)

Mereka takut berada di dalam ruangan dan takut tsunami karena rumah mereka berada di bibir pantai."
Pekanbaru (ANTARA News) - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meminta agar perguruan tinggi mengirimkan banyak relawan kepada korban gempa di Pidie, Provinsi Aceh, yang membutuhkan pemulihan psikososial.

"Saya harap akan datang relawan dari Riau, khususnya Kota Pekanbaru. Akan sangat bermakna untuk bantu saudara kita di sana. Terutama, saya berharap dari berbagai perguruan tinggi, karena terapi psikososial butuh keilmuan secara khusus," ujarnya.

Saat meluncurkan program Jangkauan dan Rehabilitasi Sosial Anak Pulau Terluar Regional Sumatera, di Kota Pekanbaru, Riau, Minggu, ia pun menimpali, |"Jadi, bukan hanya diwilayah Sumatera, melainkan dari perguruan negeri di berbagai daerah untuk berikan kontribusi."
Ia mengatakan terapi psikososial sangat dibutuhkan untuk korban bencana untuk memulihkan motivasi dan semengat hidup mereka.

Kementerian Sosial RI hingga Sabtu (10/12) mendata sebanyak 40 relawan yang tergabung dalam Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kemensos, dan 11 diantaranya berasal dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Jawa Barat.

Namun, mereka baru bisa membantu empat dari sembilan pos komando (posko) pengungsian yang di bawah koordinasi Kemensos RI.

Sementara itu, jumlah tempat pengungsian cenderung bertambah dan belum lagi warga yang mengalami trauma juga semakin banyak. Para korban gempa mengalami trauma yang belum pulih dari tsunami 2004, ditambah lagi gempa-gempa susulan yang terus terjadi.

"Itu yang jadikan jumlah pengungsi bertambah pada malam hari, karena mereka yang rumahnya tidak rusak pada siang kembali pulang, namun pada malamnya berkumpul di tenda-tenda karena di sanalah tempat yang memberikan rasa aman. Jadi, rasanya kita butuh uluran tangan untuk berikan penguatan sebagai tim terapi psikososial," ujarnya.

Tim LDP Kementerian Sosial telah melakukan kaji cepat (rapid assessment) korban gempa Aceh di lokasi pengungsian Kabupaten Pidie Jaya, yakni Meunasah Jurong, Meunasah Balek, Meuraksa Barat dan Paru Keude.

Kajian itu, menurut dia, utamanya dilakukan pada kelompok rentan, yakni lansia, disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui dan anak anak, serta warga yang ditinggalkan anggota keluarganya.

Hasil kaji cepat itu, dikemukakannya, akan menjadi dasar pemberian layanan kepada pengungsi, terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar.

Berdasarkan data tersebut, tim Kemensos RI juga akan menentukan intervensi atau aktivitas lanjutan untuk mengurangi dampak negatif dari gempa.

"Rapid Assement biasanya dilakukan dalam rentang waktu hari pertama sampai hari ke-4 kejadian bencana. Ini sebagai data awal yang menjadi dasar untuk menyusun program layanan dukungan psikososial selanjutnya," demikian Khofifah Indar Parawansa.

Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial Kemensos, Milly Mildawati, mengungkapkan hasil kaji cepat pada pengungsi yang kehilangan anggota keluarganya menunjukkan bahwa mereka masih sangat berduka. Mereka juga ketakutan berada di dalam ruangan dan lebih memilih berada di luar rumah, beraktivitas dan tidur di tenda-tenda.

"Kondisi ini agak berbeda dengan warga yang tinggal di pesisir pantai. Ketakutan mereka berbeda, dua kali lipatnya. Mereka takut berada di dalam ruangan dan takut tsunami karena rumah mereka berada di bibir pantai," ujar Milly, yang juga Kepala Pusat Kajian Bencana dan Pengungsi STKS Bandung.

Terkait korban anak-anak, Milly mengungkapkan tim dukungan psikososial mendapati anak-anak juga masih mengalami rasa takut, terlebih saat terjadi gempa susulan. Mereka umumnya menunjukkan reaksi tubuh gemetar hebat, panik, saling berpelukan dan menjerit karena takut.

"Untuk hasil assement kepada penyandang disabilitas diketahui jumlahnya kebih sedikit jika dibandingkan kelompok rentan lainnya, akan tetapi mereka tetap kami utamakan. Misalnya ada yang mengalami gangguan berjalan, kami gali kebutuhannya, dan mereka memerlukan alat bantu berjalan (tongkat) atau kursi roda," kata Milly menambahkan.

Berikut hasil kaji cepat di empat titik lokasi pengungsian pasca-gempa di Pidie Jaya, Provinsi Aceh, Rabu (7/12) yang berkekuatan 6,5 pada skala Richter.


1. Meunasah Juroeng: Jumlah pengungsi total 1.300 jiwa.
Jumlah data terpilah: Balita 150 orang; Ibu hamil (20); Ibu (30); Lansia (60); Disabilitas Anak (7); Disabilitas Dewasa (1).

2. Meunasah Balek: Jumlah pengungsi total 1.666 orang.
Jumlah data terpilah: Anak balita 135 orang; Anak Sekolah Dasar (175); Ibu hamil (15); Ibu melahirkan (5);
Disabilitas (9).

3. Paru Keude: Jumlah pengungsi: 2.100 orang.
Jumlah data terpilah: Balita: 222 orang; Lansia (350); Korban meninggal (2).

4. Meuraksa: Jumlah pengungsi total 1.535.
Data kelompok rentan: Balita (135); Lansia (150); Korban meninggal (4).

Pewarta: FB Anggoro
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Gubernur Khofifah tetapkan Malang raya masuk risiko sedang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar