BKSDA: waspada terhadap serangan buaya di Sungai Mentaya

BKSDA: waspada terhadap serangan buaya di Sungai Mentaya

Buaya muara. (ANTARA FOTO/Seno)

Sampit, Kalteng (ANTARA News) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah mengimbau masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan buaya di Sungai Mentaya.

"Kami meminta masyarakat lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai. Di daerah kita ini memang terdapat polulasi buaya jadi kita harus selalu waspada, apalagi kini ada lagi warga yang disambar buaya," kata Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit, Muriansyah di Sampit, Rabu.

Senin (26/12) malam lalu, seorang warga Desa Hanaut Kecamatan Pulau Hanaut bernama Syahran (56), diserang buaya muara. Untungnya korban berhasil selamat meski satu jarinya putus saat menyelamatkan diri dari terkaman buaya.

Korban disambar buaya saat mengambil air di sungai. Buaya diperkirakan panjang tiga meter itu sempat menarik korban ke dalam air namun korban berhasil melepaskan diri.

Data BKSDA, kejadian ini merupakan insiden ke lima kalinya buaya menyerang warga dalam 2016 ini. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam kasus serangan buaya sepanjang tahun ini.

"Kami berencana akan ke lokasi, sambil menunggu arahan dari pimpinan. Buaya biasanya mengganas saat musim kawin, tapi musim kawin itu biasanya terjadi pada Januari hingga Juli. Jadi kami menduga kejadian ini karena buaya kelaparan akibat sumber makanannya makin berkurang," kata Muriansyah.

Selama ini buaya yang dikenal ganas adalah buaya muara yang besarnya bisa mencapai lima meter. Namun belum diketahui jenis buaya yang kali ini menyerang warga.

Serangan buaya di kawasan muara Sungai Mentaya cukup tinggi. Hampir tiap tahun ada korban jiwa, bahkan beberapa di antaranya jasadnya tidak ditemukan hingga kini.

Habitat buaya di kawasan muara diduga ada di pulau Lepeh karena warga sering melihat buaya bermunculan dan berjemur di daratan kecil yang berada di tengah Sungai Mentaya. Pemerintah hanya bisa mengimbau masyarakat lebih berhati-hati karena sangat sulit menangkap dan merelokasi buaya liar yang jumlahnya diperkirakan cukup banyak itu.

BKSDA mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai, bahkan disarankan untuk dihindari. Berdasarkan data, kasus sambaran buaya umumnya terjadi pada pagi dan sore karena diduga saat itulah kebiasaan buaya mencari makan.

Pewarta: Norjani
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Paus terdampar dan mati di Pulau Obi sudah dievakuasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar