Istanbul (ANTARA News) - Turki pada Senin (13/3) menyatakan menangguhkan hubungan tingkat tingginya dengan Belanda dan tidak mengizinkan duta besarnya kembali Turki dalam perselisihan terkait aksi kampanye para menteri negara itu di luar negeri menjelang referendum penting.

Presiden Recep Tayyip Erdogan juga menuduh Kanselir Jerman Angela Merkel "mendukung teroris" saat ketegangan meningkat antara Turki dan negara-negara Uni Eropa -- krisis yang berisiko mempengaruhi seluruh hubungan Ankara dengan Eropa.

Jerman dan Belanda mencegah menteri-menteri Turki melakukan aksi guna menggalang dukungan warga Turki di luar negeri untuk referendum 16 April yang ditujukan untuk memperbesar kekuasaan Erdogan.

Ankara marah karena tindakan Belanda beberapa hari menjelang pemilihan umum di negara tersebut. Pihak berwenang di Belanda tidak mengizinkan pesawat menteri luar negeri Turki mendarat dan memulangkan keluarga menteri itu pada akhir pekan.

"Sampai Belanda mengompensasi apa yang sudah mereka lakukan, hubungan tingkat tinggi dan rencana pertemuan di tingkat menteri dan lebih tinggi ditangguhkan," kata Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus setelah sebuah rapat kabinet di Ankara.

Turki tidak akan membiarkan Duta Besar Belanda kembali ke Ankara sampai Belanda mengizinkan para menteri Turki berkampanye, tambah dia sebagaimana dikutip kantor berita AFP. Penerbangan diplomatik juga akan ditangguhkan.

Duta Besar Belanda untuk Turki Kees Cornelis van Rij sekarang sedang berada di luar negara itu, dan urusannya ditangani oleh kuasa usaha Belanda. (hs)


Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2017