Jerat sponsor rokok

Jerat sponsor rokok

Pagelaran Musik We The Fest 2015 di Jakarta, Minggu (9/8). Pagelaran yang memadukan ambience musik indie dan musik arus utama itu menampilkan musisi lokal dan Internasional seperti Neonomora, L'Alphalpha dan Jessie Ware. (ANTARA FOTO/Diego Ranu)

Muhammad Irfan (27) masih ingat isapan rokok pertamanya ketika ia duduk di kelas dua tsanawiyah di sebuah pesantren di Purwakarta, Jawa Barat, bertahun-tahun lalu.

Semula dia hanya ikut-ikutan seniornya merokok, mengisap rokok apa saja yang dijual di sekitar sekolah, tidak menyukai merek tertentu.

Namun setelah belajar di SMA di Bandung, dan sering menghadiri festival pencarian band indie "LA Lights Indiefest", penggemar band-band seperti The Adams, White Shoes and the Couples Company, dan Goodnight Electric itu memilih rokok produksi perusahaan penyelenggara acara tersebut.

"Awalnya datang ke acara L.A. Indiefest memang mau lihat band-band yang main. Tapi pelan-pelan jadi tertarik buat nyoba produknya. Sejak itu saya merokok LA Mild hingga saya kuliah," kata Irfan, yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Bandung.

Lain lagi cerita Mufti Rizky (26), yang bekerja di event organizer bersponsor rokok pada 2010. Acara musik atau olahraga bersponsor rokok selalu memberikan produk pada relawan yang terlibat dalam acara tersebut, biasanya anak SMA dan mahasiswa.

"Sejak masa persiapan acara mereka sudah disuguhi rokok. Buat anak SMA atau anak kuliah lebih memilih mengisap rokok yang dikasih penyelenggara daripada beli sendiri, dan mereka tetap mengisap rokok yang sama hingga sekarang," kata Mufti, yang selama tiga tahun terakhir bekerja di bidang konstruksi di Bandung.

Besarnya perkembangan skena indie dalam beberapa tahun terakhir rupanya menyedot minat produsen rokok untuk mengambil peran.


Memasuki Indie

Skena indie diperkirakan muncul di Indonesia pada awal 1990-an, dan saat itu merupakan minoritas di kancah musik Tanah Air.

Tahun 2000-an sedikit demi sedikit skena ini mulai berkembang. Generasi baru dari skena ini muncul dan lebih produktif merilis album hingga video musik dibanding generasi indie 90-an, sebut saja Mocca, yang langsung digandrungi oleh remaja saat itu lewat lagunya "Me and My Boyfriend" dan "Secret Admirer". Video klip "Me and My Boyfriend" juga berhasil meraih penghargaan video musik terbaik tahun ini versi MTV Penghargan Musik Indonesia 2003.

Itu membuat indie merangkak menjadi arus utama baru. Gejala ini ditangkap dengan baik oleh perusahaan rokok, yang kemudian mulai beralih dari menyokong band arus utama ke band indie.

Setelah indiefest pertama, beberapa produk rokok lain mulai mengambil jalan yang sama dengan mendukung acara komunitas indie secara reguler, terutama di kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Medan, Yogyakarta dan Bali.

Acara musik memang dianggap sebagai medium efektif untuk memasarkan produk rokok pada remaja, sehingga perusahaan rokok menghadirkan bintang tamu yang sedang digandrungi oleh anak muda demi memromosikan produk.

Dokumen Internal Perusahaan Rokok Kent, produk rokok berbasis di Amerika dan bagian dari RJ Reynolds Tobacco Company yang banyak mengkaji bagaimana rokok memengaruhi konsumen baru menyebut "musik memiliki pesona universal dan berpengaruh kuat untuk membidik target pasar remaja".

Rokok sudah sejak lama mendekati dunia musik. Tahun 1970-an band rock asal Malang bernama "Bentoel" dibentuk oleh manajer perusahaan rokok Bentoel untuk mempromosikan produk-produk mereka.

Lalu ada Log Zhelebour yang sejak 1984 sampai 2007 menggelar acara festival rock se-Indonesia dengan dukungan sponsor rokok seperti Djarum dan Gudang Garam.

Namun dalam sepuluh tahun terakhir, perusahaan rokok terlihat akrab dengan skena musik independen atau indie yang dikenal mengusung semangat kemandirian.

Itu menjadi kontrakdiktif di kalangan pelaku skena indie karena dukungan dari perusahaan besar dianggap dapat mempengaruhi idealisme mereka.

Pegiat skena independen asal Jakarta Harlan Boer mengatakan sejak gerakan itu berkembang di kota-kota besar di Indonesia pada awal 1990-an, para pelakunya memang sudah terbiasa mengorganisir kegiatannya secara kolektif dan swadaya.

Generasi awal yang masih amatir ini memang luput dari perhatian media besar, sehingga korporasi tidak melirik mereka dan lebih suka mendanai acara musik arus utama.

Harlan memperkirakan rokok secara terang-terangan mendekati skena indie sejak adanya LA Indiefest pada 2006.

"Rokok mulai tertarik mendekati skena indie karena pada waktu itu massanya mulai besar, citra produk rokok juga nyambung dengan gerakan ini sehingga semakin masif mereka mendukung acara musik indie," kata pria yang sempat aktif di band Cmon Lennon ini.

Sponsor rokok direspons berbeda oleh para pelaku skena india, ada yang menerima secara terbuka, ada yang terang-terangan menolak, ada pula yang mengambil jalan tengah.

"Pada dasarnya mereka mau menerima sponsor karena merasa ada pihak yang mendukung gerakannya, tetapi mereka memulai gerakan bukan untuk mencari dukungan dari korporasi besar, karena jauh sebelum ada sponsor pun mereka telah melakukan itu bersama dengan teman lain," kata Harlan.

Mereka yang menolak menyatakan tidak akan menerima sponsor rokok sedikit pun, bahkan tidak akan tampil atau sekadar hadir di acara yang disponsori perusahaan rokok.

Tetapi yang paling banyak adalah yang mengambil jalan tengah, tidak mau menyelenggarakan acara yang disponsori rokok, tetapi masih mau main atau datang ke acara yang disponsori rokok.

Meski beda pandangan, tidak ada jarak besar yang memisahkan orang-orang yang berada di lingkungan itu. Mereka memilih saling memahami dan menghargai pilihan masing-masing.

"Semua sudah tahu konteksnya, prinsip untuk menerima atau menolak sponsor itu pun diterapkan untuk diri sendiri saja. Mereka tidak berusaha untuk memengaruhi yang lain, tidak ada saling serang di antara mereka," kata Harlan.

Pria yang juga sempat berada di balik band Efek Rumah Kaca itu mengatakan penolakan dari sebagian pelaku skena indie tidak dititikberatkan pada isu rokok, tetapi lebih pada kemandirian masing-masing seniman untuk menyelenggarakan acara sendiri tanpa bantuan korporasi.

"Walaupun yang datang adalah korporasi non-rokok, mereka yang memegang kuat etos Do It Yourself akan tetap menolak," kata Harlan, yang yakin tanpa sponsor sama sekali pun skena indie akan tetap ada.


Siasat

Guna menyiasati Peraturan Pemerintah No. 109/tahun 2012 pasal 36 (a) yang melarang penggunaan nama merek dagang dan logo produk tembakau pada acara yang disponsori produk itu, perusahaan-perusahaan rokok hanya menonjolkan huruf dan warna tertentu yang berasosiasi dengan citra mereknya.

Itu antara lain terlihat dalam festival musik We The Fest di Parkir Timur Senayan pada 13 dan 14 Agustus 2016, yang menghadirkan band seperti Sajama Cut, Trees & Wild, Barasuara.

Dalam acara itu, dukungan dari produk GG Mild terlihat dari stan besar bertulisan Generation G Booth yang dua huruf G-nya menunjukkan logo GG Mild.

Stan tersebut juga meliputi area yang mewakili anak muda mulai dari area musik, DIY Bracelet untuk kerajinan gelang, Doodle Area untuk mereka yang hendak dibuatkan sketsa, atau Style Area untuk berfoto. Ada pula Park Generation G yang menampilkan sejumlah wahana permainan di area konser.

"Jadi mereka menonjolkan huruf tertentu dari merek rokok dan warna yang sama. Misalnya, A Mild dengan nama 'soundsAtion', dengan huruf A warna merah dan font yang sama dengan merek A Mild, atau GG Mild punya acara Urban GiGs akan menonjolkan huruf GG dengan warna dan font yang sama pula dengan merek GG Mild, atau 'Pro Jam' milik merek rokok Surya Pro yang menekankan pada huruf O, hingga acara "All About" milik LA Mild yang menekankan pada huruf LA," kata Ketua Lentera Anak Lisda Sundari.

Perusahaan rokok juga menggaet figur yang sedang disenangi anak muda sebagai dutanya. A Mild mengangkat Arian Arifin dari band Seringai dan tagline "Lo Pikir Aman itu Mapan", Iga Massardi dari band Barasuara dengan tagline "Berisik Gue Berisi", hingga Dendy Darmawan dengan tagline "Jalanin Aja Jangan Dilawan" yang dinilai mewakili sikap kaum muda.

GG Mild melakukan hal yang sama dengan menjadikan penyanyi jazz Teza Sumendra sebagai duta merek rokok mereka.

"Perusahaan rokok bermain di wilayah insight yang menyentuh sisi psikologis remaja. Kata-kata unik dan menarik dipadu dengan tokoh anak muda inspiratif yang sukses dan artis muda sebagai brand ambassador jelas bertujuan untuk menyasar anak muda yang sedang mencari identitas diri untuk mengkondisikan bahwa rokok seolah-olah produk aman dan sesuatu yang bisa diterima," kata Lisda.

Lisda mengatakan perusahaan rokok memang melakukan promosi untuk mengincar para remaja, karena rokok pertama yang mereka isap akan menentukan produk rokok yang mereka konsumsi kelak.

"Para perokok biasanya loyal," kata dia.


Oleh Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar