counter

Pasukan Tunisia tewaskan pemimpin ISIS

Pasukan Tunisia tewaskan pemimpin ISIS

Polisi Tunisia terfoto setelah serangan di bis militer di Tunis, Tunisia, Selasa (24/11). Setidaknya 11 orang tewas pada hari Selasa setelah ledakan mengenai bis yang membawa pengawal presiden Tunisia di jalan besar di pusat ibukota Tunis. Sumber keamanan dan kepresidenan menyebutkan ledakan tersebut adalah sebuah serangan, menambahkan bahwa masih belum jelas apakah itu adalah bom atau bahan peledak dilempar ke bis saat bergerak di Jalan Mohamed V. (REUTERS/Zoubeir Souissi)

Tunis, Tunisia (ANTARA News) - Pasukan keamanan Tunisia menewaskan seorang pemimpin ISIS yang merencanakan serangan pada bulan suci Ramadhan menurut otoritas negara itu pada Senin (29/5).

Kementerian Dalam Negeri dalam pernyataannya tidak mengidentifikasi tersangka, namun menyatakan bahwa dia anggota utama ISIS dan "berbahaya" dan tewas dalam operasi pada Minggu malam yang dilancarkan oleh Garda Nasional dekat perbatasan Aljazair.

Sebelas surat perintah penangkapan juga sudah dikeluarkan untuk tersangka yang punya hubungan dengan "operasi teroris" menurut kementerian.

Juru bicara yudikatif Sofiene Sliti memberi tahu radio Shems FM bahwa tersangka adalah warga Tunisia yang dikenal sebagai Houssem Tlithi, yang lahir tahun 1997.

Kementerian Dalam Negeri menyatakan tersangka menjadi buron sejak 2014 dan bersembunyi di daerah Gunung Salloum, benteng pertahanan ekstremis.

Gunung Salloum dekat dengan Gunung Chambi, tempat 15 tentara tewas dalam serangan paling mematikan terhadap Angkatan Bersenjata tahun 2014.

Dalam operasi Minggu malam, ekstremis lain terluka dan senjatanya disita, termasuk di antaranya senapan Kalashnikov dan bahan yang digunakan untuk membuat sabuk peledak.

Kementerian Dalam Negeri menyatakan mereka sudah biasa dengan serangan "teroris" selama Ramadhan, bulan suci ketika orang-orang beriman tidak makan dan minum dari fajar sampai senja yang dimulai Sabtu di sebagian besar negara.

Sejak revolusi tahun 2011, Tunisia menghadapi peningkatan serangan ekstremis yang menewaskan lusinan anggota pasukan keamanan dan 50 turis asing.

Negara itu dalam keadaan darurat sejak November 2015, ketika bom bunuh diri yang diklaim oleh ISIS menewaskan 12 pengawal presiden menurut warta kantor berita AFP. (ab)


Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar