counter

Pengrajin daun ketupat raup keuntungan

Pengrajin daun ketupat raup keuntungan

Pedagang menata cangkang ketupat di sentra pembuatan ketupat, Gang Aoet, Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/6/2017). Penjualan cangkang ketupat berbahan daun kelapa yang dihargai Rp5.000 per 10 cangkang tersebut telah ramai dijual dan diperkirakan mencapai puncak permintaan pada H-1 lebaran. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Pangkalpinang (ANTARA News) - Pengrajin daun atau sangkar ketupat di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung raup keuntungan hingga jutaan rupiah jelang lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah.

Setiap tahunnya seakan menjadi berkah bagi puluhan pedagang anyaman ketupat, salah satunya di Pasar Pagi dan Pasar Pembangunan Pangkalpinang yang diserbu pembeli pada H-1 Lebaran.

"Sejak H-2 Lebaran pembeli memang sudah banyak namun H-1 Lebih banyak lagi. Karena masyarakat sudah mulai menyiapkan lauk pauk untuk disantap saat lebaran," kata Pedagang sangkar ketupat di Pasar Pagi, Santi di Pangkalpinang, Sabtu.

Ia menyebutkan, dalam satu hari ia bisa menjual sekitar seribu sangkar ketupat dengan harga jual Rp1.500 per buah.

"Omset yang saya dapatkan mencapai Rp1,5 juta dan modal untuk membeli daun kelapa yang menjadi bahan baku sangkar ketupat sebesar Rp300 ribu," katanya.

Santi menjelaskan, berjualan anyaman ketupat sudah seperti tradisi jelang lebaran.

Ia sudah berjualan sejak tiga tahun terakhir.

Sementara itu, pedagang lainya di Pasar Pembangunan, Odoi mengaku sudah 10 tahun berjualan anyaman ketupat terutama jelang lebaran.

Ia mengatakan omset yang dihasilkan pada H-2 lebaran sebesar Rp1,2 juta sedangkan pada H-1 mencapai Rp2 juta.

"Uang hasil jualan akan digunakan untuk membeli kebutuhan lebaran seperti kue, baju, daging dan sebagainya," katanya.

Ia berharap, setiap tahun sangkar ketupatnya terus laris terjual seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Meskipun bisnis musiman tapi membuat sangkar ketupat menguntungkan dan bisa memenuhi kebutuhan lebaran," katanya.

Pewarta: Kasmono
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar