Cintaku pada batik

Cintaku pada batik

Ilustrasi--Perajin menorehkan lilin dengan menggunakan canting saat membuat motif batik di desa Cikadu Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, Minggu (24/9/2017). Kain Batik Cikadu yang terinspirasi dari budaya khas warga Pandeglang tersebut dijual Rp100 ribu hingga Rp2 juta per lembar. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)

Jakarta (ANTARA News) - Ini bukan sekadar cinta, akan tetapi rasa suka dan bangga yang dimotivasi oleh suatu momentum.

Bermula dari kabar dari Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) yang memantik rasa ingin tahu, lalu ditambah penasaran dengan informasi dari "pakar batik" Universitas Kristen Petra, Surabaya, Lintu Tulistyantoro.

Momentum dimaksud adalah ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Kini, tanggal itu diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Pada delapan tahun silam itu, penetapan UNESCO untuk batik dalam Daftar Representatif "Karya Agung Budaya Tak-benda Warisan Manusia" itu menjadi titik awal dari pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia yang saat itu belum banyak memiliki pakar di bidang tersebut.

Tetapi, Prof Soon Ku Kim dari Departement of Design Dongseo University (DSU) Korea mempunyai pandangan lain.

"Indonesia itu benar-benar kaya, karena itu Indonesia bisa memengaruhi tren negara lain, seperti halnya Korean Style," ucapnya.

Pandangan Prof Kim yang mengajar tentang desain busana di Universitas Ciputra (UC) Surabaya sejak Tahun Ajaran 2012 dan sudah melanglang ke pelosok Nusantara di Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Lombok itu, cukup menambah cinta pada sehelai batik.

Dalam pandangan perempuan guru besar itu, batik merupakan contoh budaya Indonesia yang sangat menarik untuk memperkaya mozaik dunia. Ia mengaku sempat kaget melihat pakaian khas itu ada di mana-mana. Ternyata, itulah batik.

Nah, pandangan Prof Kim itu digarisbawahi "ahli" batik yang juga Ketua Komunitas Batik Jawa Timur di Surabaya (KiBaS), Lintu Tulistyantoro. Ia menegaskan bahwa Batik Indonesia sebenarnya sudah mendunia hingga Eropa, Amerika, Afrika, dan bahkan Asia.

Misalnya, batik dari Banyuwangi yang setiap bulannya ada 3.000 potong diekspor ke Brazil, namun pemerintah belum memanfaatkan momentum itu untuk menjadikan batik sebagai tren global.

Dalam momentum itu, menurut dosen Desain Interior Universitas Kristen Petra Surabaya itu, pemerintah harus melakukan "roadshow" batik yang melibatkan desainer Indonesia berskala internasional ke seluruh dunia.

Upaya lain yang juga penting, desainer Indonesia yang diajak "roadshow" ke seluruh dunia itu harus melakukan penyesuaian selera negara tertentu terhadap batik yang tentu berbeda motif.

Ia mencontohkan Jerman (Eropa) yang lebih suka warna "blue", Jepang yang lebih suka warna alami (warna pucat), Amerika Serikat yang lebih suka motif klasik, atau Amerika Selatan yang lebih suka warna mencolok (merah/hitam).

Kedua upaya itu harus didukung dengan dokumentasi yang memadai, baik narasi maupun foto, lalu pemerintah membukukan motif batik dari seluruh dunia untuk dipromosikan di berbagai forum atau pameran internasional, baik forum para pejabat maupun anak-anak muda.

Tentu, pemerintah juga harus menyiapkan produksi batik nasional secara masif, sehingga ekspor batik yang selama ini sudah berlangsung ke Brazil (Amerika Selatan), beberapa negara Asia (Jepang), dan Afrika, akan terus berkembang.

Apalagi, beberapa pesohor dunia pun mengenakan motif cantik batik asal Indonesia, seperti Jessica Alba yang sempat terlihat mengenakan gaun bermotif parang gringsing yang dipercaya sebagai penolak sakit.

Selain itu, deretan artis seperti Dakota Fanning, Reese Witherspoon, Heidi Klum, dan Rachel Bilson juga pernah tertangkap kamera mengenakan kain motif batik.

Batik Sesungguhnya

Nah, cinta pada batik pun semakin membuncah, meski wacana yang selalu berkembang di negeri ini serba politis dengan penuh saling caci maki dan seolah paling benar sendiri.

Ini bukan hanya negara politik, politik, dan politik, tapi negeri ini juga republik batik, karena ini republik yang penuh corak, republik yang penuh warna-warni, republik dengan keanekaragaman yang khas.

Itulah gumanku untuk meneguhkan bahwa negeri ini negeri yang lengkap, negeri yang memiliki masyarakat dari yang sangat terbelakang hingga memiliki masyarakat yang sangat modern. Ini republik "Bhinneka Tunggal Ika" nan cantik.

Ya, Batik Indonesia yang unggul dari ratusan mata budaya dari 35 negara itu mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Realitas itu membuktikan bahwa bangsa ini sesungguhnya bukanlah keseragaman dalam satu suara setuju atau tidak setuju, tapi bangsa yang sesungguhnya sangat "batik" (beragam/majemuk).

Oleh karena itu, pakailah "Batik Sesungguhnya", yakni batik dalam konteks keragaman dan batik dalam konteks budaya. Batik dalam konteks budaya itu jangan coba-coba didegradasi dengan pemahaman kapitalis yang hanya sebatas kain, pakaian, atau mode yang ujung-ujungnya hanya fulus/dolar.

"Sejak ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda untuk dunia pada 2 Oktober 2009, batik masih sekadar menjadi fashion," ucap pecinta dan peneliti batik, Lintu Tulisyantoro, pada 20 September 2014.

Bagi dosen interior Universitas Kristen Petra Surabaya itu, batik sebagai mode tersebut tidak jauh berbeda dengan tekstil atau industri tekstil. Padahal, batik pada masa lalu menjadi bagian dari budaya, sehingga batik untuk acara atau kalangan X, Y, Z itu berbeda.

Jadi, janganlah memahami batik sebatas itu, sebatas mode atau industri tekstil, tetapi lebih dari itu. Namun, menjadikan batik sebagai budaya tidak harus meniru tradisi masa lalu.

Setidaknya, bangsa ini bisa membedakan batik dengan pakaian lainnya, karena itu masyarakat harus menaikkan "kelas" batik dengan membedakan batik bukan atas dasar status atau bentuk kegiatan seperti masa lalu, melainkan atas dasar manfaat/fungsi.

"Misalnya, batik untuk anak-anak dan orang dewasa itu harus berbeda. Atau, batik untuk dinas X dengan dinas Y, atau batik untuk bagian humas dengan bagian akademik juga berbeda," tuturnya.

Dengan menaikkan "kelas" batik dari sekadar pakaian atau "fashion" atau tekstil menjadi bagian dari fungsi tertentu, maka batik sudah menjadi bagian dari budaya atau kehidupan.

Dengan begitu, batik memiliki ruh atau filosofi seperti pada masa lalu, sehingga masyarakat dunia akan melihat batik sebagai pakaian dengan nilai lebih, bukan asal dipakai saja.

Untuk itu, batik sangat bisa (bahkan harus) menjadi seragam yang tidak seragam. Artinya, berbagai lapisan masyarakat boleh memiliki seragam batik, tapi seragam batik untuk kebutuhan dalam satu lapisan masyarakat itu tidak harus seragam.

Jadi, seragam batik dalam satu lapisan masyarakat harus beragam sesuai fungsi atau kebutuhan. Dengan tidak adanya "penyeragaman" (seragam) batik, maka motif batik akan berkembang, budaya batik pun berkembang, kreasi dan inovasi pun berkembang, dan sekaligus menandai republik Bhinneka Tunggal Ika. Selamat Hari Batik Nasional! 

Oleh
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar