FKL temukan 4.542 jerat satwa liar di Leuser

FKL temukan 4.542 jerat satwa liar di Leuser

Kawasan Ekositem Leuser Aceh Perbukitan Kawasan Ekositem Leuser (KEL) tampak dari atas puncak Gunung Singgah Mata, Nagan Raya, Aceh, Rabu (21/6/2017). Menurut data Forum Konservasi Leuser (FKL) pertengahan Juni 2017 menerangkan dari 2.255.577 hektar luas kawasan ekosistem Leuser di Provinsi Aceh hanya 1.808.7655 hektar yang masih tersisa, selebihnya sudah gundul akibat alih fungsi baik oleh masyarakat, perusahaan maupu program pemerintah. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Sabang, Aceh (ANTARA News) - Forum Konservasi Leuser (FKL) telah menemukan sebanyak 4.542 unit jeratan satwa liar dari 2014 sampai 2017 di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser provinsi paling ujung barat Sumatera.

"Sejak akhir tahun 2014 sampai akhir 2017 FKH menemukan 4.542 jerat satwa liar di kawasan ekosistem Leuser," kata Koordinator Wildlife Protection Team-Forum Konservasi Leuser (WPT-FKL) Dediansyah ketika dihubungi Antara dari Sabang, Minggu.

Ia menjelaskan, jerat satwa liar yang dilindungi tersebut ditemukan di wilayah Leuser meliputi Kabupaten Aceh Tamieng hingga Aceh Selatan.

"Jerat satwa liar itu dominan masih aktif, ada juga yang tidak aktif dan bahkan ada jerat yang langsung kami temukan dari pemburu kemudian pelaku membuat surat perjanjian tidak mengulangi lagi," sebut Dediansyah.

"Pelakunya yang pernah kami tangkap dari Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Utara dan ada juga dari Aceh," ungkapnya.

Dediansyah mengakui, ketika tim berpatroli di kawasan Leuser juga pernah menemukan langsung satwa liat seperti Landak terjerat.

"Jerat kami yang temukan banyak jenis dan dominan jeratan satwa liar yang dilindungi seperti Landak, Gajah, Harimau," tuturnya.

Untuk mencegah pemburuan satwa liar yang dilindugi oleh undang-undang tersebut pihaknya mengaku telah bekerjasama dengan Kepolisian, Dinas Kehutanan Aceh, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh serta pemerhati lingkungan lainnya dan Lembaga Adat.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar