BPW: ribuan wisatawan China batal ke Bali

BPW: ribuan wisatawan China batal ke Bali

Arsip: Petugas memeriksa tiket penumpang di Bandara Ngurah Rai Bali, Rabu (29/11/2017). Berdasarkan hasil rapat evaluasi kondisi terkini Gunung Agung yang kondisinya sudah turun dari merah ke oranye sehingga Bandara Ngurah Rai Bali dibuka kembali seperti biasa sejak pukul 15.00 Wita. (ANTARA FOTO/Wira Suryantala)

Denpasar (ANTARA News) - Ketua Perkumpulan Biro Perjalanan Wisata (BPW) Bali Liang, Elsye Deliana mengatakan ribuan wisatawan asal China batal ke Bali pada bulan Desember hingga Januari 2018.

"Akibat dampak erupsi Gunung Agung. Ribuan turis asal China membatalkan diri ke Bali pada Bulan Desember 2017 hingga Januari 2018," kata Elsye, di Denpasar, Senin.

Ia mengatakan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sudah membatasi warganya untuk bepergian ke Bali, seiring meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Agung.

"Pernyataan Pemerintah RRT untuk pembatasan warganya ke Bali telah dilakukan. Bahkan hingga Januari 2018 pesawat terbang dari China baik reguler maupun carter tidak akan terbang ke Pulau Dewata," ucapnya.

Elsye yang biasa menangani wisman China tersebut mengatakan dengan kondisi ini sangat memukul sektor pariwisata di Bali, khususnya paket tamu asal China (Tiongkok), sampai Januari 2018.

"Data kunjungan saat `low session`, turis dari Tiongkok yang datang ke Bali tiap harinya sebanyak 15 penerbangan dengan jumlah rata-rata 150 turis per pesawat. Sementara pada pada `high session` bulan Juli-Agustus, terdapat 30 hingga 35 penerbangan dari China ke Bali setiap hari dengan jumlah penumpang rata-rata 150 orang setiap pesawat," ujarnya.

Ia mengatakan jika turis China batal ke Bali bulan Desember hingga Januari saja, maka kondisi sektor pariwisata Pulau Dewata akan sangat berpengaruh.

"Belum lagi setelah itu, karena kita tidak bisa prediksi apa yang akan terjadi nanti. Sebab wisatawan asal China pasti mendengar pernyataan pemerintah setempat. Sebab ada imbauan untuk membatasi kunjungan ke Bali bila situasi masih terjadi erupsi gunung tertinggi di Bali," ucapnya.

Ia mengatakan bulan Pebruari, yakni "Chinnese New Year (Imlek)", pihaknya juga belum tahu apakah wisatawan akan datang atau tidak, padahal biasanya saat itu puncak kunjungan wisatawan China ke Bali.

"Bila pemerintah bisa tangani dengan baik saat terjadi krisis, kesan Bali akan tetap bisa bagus, mereka tetap percaya pemerintah wisatawan tangani dengan baik (saat krisis seperti sekarang)," ujarnya.

Elsye mengatakan wisatawan China sebenarnya tidak takut dengan aktivitas Gunung Agung, tetapi mereka takut tidak bisa pulang ke negaranya jika terjadi penutupan Bandara Gusti Ngurah Rai sebagai dampak erupsi Gunung Agung seperti beberapa hari lalu.

"Kami bilang Bali aman sama mereka, tidak ada pengaruh letusan Gunung Agung, cuman untuk kepulangan mereka jika Bandara Ngurah Rai tutup, itu yang masih dipertanyakan, ini harus ditangani dengan baik jika kembali terjadi penutupan bandara tersebut," kata Elsye.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar