Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, menginginkan sistem Sosrobahu yang merupakan ciptaan anak bangsa sendiri dapat disebarluaskan sehingga semakin banyak yang menggunakan sistem tersebut dalam pengerjaan konstruksi jalan layang di mana saja.

"Karena (sistem Sosrobahu) akan digunakan lagi setelah sekitar 30 tahun tidak digunakan, mudah-mudahan semakin banyak yang menggunakannya ke depannya," kata Hadimuljono, padaPemutaran Perdana Proyek Tol Jakarta-Cikampek II Elevated dengan Metode Sosrobahu, di Tambun, Jawa Barat, Rabu malam.

Dia memencet tombol untuk dimulainya penggunaan sistem Sosrobahu dalam pelaksanaan pembangunan tiang penyangga jalan tol layang ruas Jakarta-Cikampek itu.

Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Kepala Badan Pengatur Jalan Tol, Herry T Zuna, Direktur Operasi II PT Waskita Karya, Nyoman Wirya Adnyana, Direktur Pengembangan Jasa Marga, Hasanuddin, dan Direktur Utama PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC), Djoko Dwijono.

Sebagaimana diwartakan, pembangunan proyek tol layang Jakarta-Cikampek II menggunakan sistem Sosrobahu, teknik konstruksi asli ciptaan anak negeri, yang digunakan dalam memutar pierhead (leher tiang penahan), agar tidak mengganggu arus lalu lintas di bawahnya.

"Metode Sosrobahu berguna untuk mengatasi proses pembangunan jalan tol di atas jalanan yang sudah ramai, serta keterbatasan dan mahalnya biaya pembebasan lahan," kata Adnyana.

Ia memaparkan, teknologi Sosrobahu merupakan teknik konstruksi yang digunakan terutama untuk memutar bahu lengan beton jalan layang yang ditemukan oleh putra bangsa, Tjokorda Raka Sukawati.

Dengan teknik itu, lanjutnya, lengan jalan layang diletakkan sejajar dengan jalan di bawahnya, dan kemudian diputar 90 derajat sehingga pembangunannya tidak mengganggu arus lalu-lintas. Contoh penerapan teknik Sosrobahu ini adalah jalan tol layang By Pass di Jalan DI Pandjaitan, Jakarta Timur, dan sebagian jalan tol ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dari Jakarta.

Teknologi penggunaan sistem Sosrobahu seperti itu pernah digunakan seperti dalam pembangunan jalan layang By Pass atau Jalan Tol Wiyoto Wiyono pada 1988-1990, serta teknik serupa juga kemudian diaplikasikan dan digunakan di beberapa negara lainnya.

Dalam proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Elevated atau tol layang Jakarta-Cikampek II itu bakal digunakan lebih dari 200 "pierhead" yang ditanam di tengah-tengah jalan tol tersebut, dan hampir seluruhnya dikerjakan dengan menggunakan metode Sosrobahu tersebut.

Proyek tersebut merupakan bentuk kerja sama operasi (KSO) antara PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama PT Acset Indonusa Tbk yang menandatangani kontrak dengan PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC), selaku anak perusahaan PT Jasa Marga (Persero) Tbk yang menjadi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).

Proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Elevated diperoleh Waskita Karya bersama Acset Indonusa pada 2017 dengan nilai kontrak sebesar Rp13,53 triliun serta ditargetkan selesai dan sudah beroperasi pada tahun 2019 mendatang.

Sedangkan Waskita Karya memiliki porsi pengerjaan sebesar 51 persen dan mengerjakan pelaksanaan ruas dari Cikunir hingga Cikarang dengan panjang sekitar 19,7 kilometer.

Pewarta: Muhammad Rahman
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2017