69 pohon di Surabaya identik dengan nama tempat

69 pohon di Surabaya identik dengan nama tempat

Ilustrasi--Sejumlah warga melintas di dekat pembibitan pohon trembesi di Jalan Samratulangi, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (27/3). Bibit pohon trembesi tersebut disediakan secara gratis untuk membantu warga dalam program penghijauan nasional yang dikemas dengan nama Reforest Indonesia. (FOTO ANTARA/Basri Marzuki)

Surabaya (ANTARA News) - Komunitas Pecinta Lingkungan Kampung Sawoeng menyebut ada sekitar 69 pohon yang ditanam di Kota Surabaya merupakan jenis-jenis tanaman sesuai nama-nama tempat atau jalan (toponimi) di Kota Pahlawan.

"Banyak dari kita tidak paham dan baru tahu, nama-nama jalan di Surabaya sebetulnya dibuat berdasarkan nama tanaman. Tanaman ini memiliki kesejarahan nama-nama, yang selanjutnya kami sebut sebagai Pohon Surabaya," kata koordinator Komunitas Kampung Sawoeng Atik di aksi Anak Surabaya Tanam Pohonnya di THP Kenjeran, Minggu.

Menurut dia, Komunitas Kampung Sawoeng dalam setiap memperingati Hari Pohon se-Dunia pada 21 November selalu menggelar aksi menanam pohon dengan melibatkan masyarakat beserta anak-anak sekolah dasar.

Menanam pohon, lanjut dia, merupakan kewajiban bersama untuk mengingatkan kembali pentingnya peran dan fungsi pohon bagi kehidupan makhluk hidup di bumi.

Namun, kata dia, ada yang menarik dalam aksi tanam pohon tersebut yakni pohon yang ditanam merupakan jenis-jenis tanaman sesuai nama-nama jalan di Surabaya. Mereka menyebutnya tanaman toponimi (nama tempat).

Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya memiliki banyak sejarah panjang terkait toponimi, seperti nama Jalan Embong Sawo yang pada saat zaman dahulu tempat tersebut dipenuhi pepohonan sawo.

Ada pula Jalan Embong Gayam (tanaman gayam), Jalan Cempedak (tanaman cempedak atau nangka beruit), Jalan Cendana (tanaman cendana), Jalan Kenongo (tanaman kenanga), Jalan Gadel (tanaman bratawali atau daun gadel), Jalan Juwet (tanaman juwet, jambalang atau jambu keling) dan masih banyak lagi.

"Dengan kata lain, nama-nama unsur geografi bukan hanya sekedar nama, tetapi di belakang nama tersebut adalah sejarah yang panjang dari pemukiman manusia," katanya.

Dari nama-nama geografik ini, kata dia, dapat dilacak perjalanan panjang bangsa ini. Bila para ahli sepakat menamai suatu jalan atau daerah, maka hal ini tidak sepele dan terus bergulir terus tiap tahunnya dalam wacana diskusi para ahli geografi dan ilmu-ilmu terkait lainnya.

Untuk mengetahui sejarah toponomi di Surabaya, Atik mengatakan harus mendengarkan pendapat dan paparan ilmiah dari ahli sejarah, ahli bahasa, ahli sosiologi, dan bila dibutuhkan, para sesepuh daerah.

Dengan menggelar aksi tanam pohon sekolah berdasarkan toponimi ini, Komunitas Kampoeng Sawoeng selain ingin mengenalkan aktivitas menanam, juga memberi edukasi kesejarahan pada anak-anak dan tentunya masyarakat yang belum paham jenis-jenis tanaman toponimi.

Menurutnya, sejauh ini Kampoeng Sawoeng sudah mengidentifikasi kurang lebih 69 pohon Surabaya yang merupakan tanaman identik dari nama suatu daerah atau jalan di Surabaya.

Adapun yang menjadi keprihatinan Kampoeng Sawoeng adalah bahwa pohon-pohon toponimi di Surabaya ini semakin berkurang jumlahnya, bahkan bisa jadi sudah tidak ada lagi di daerah tersebut.

"Karena itu kita perlu mengadakan upaya-upaya pelestarian agar pohon toponomi Surabaya ini tetap ada," ujarnya.

Kampoeng Sawong percaya bahwa setiap pohon Surabaya mempunyai cerita sendiri terhadap penamaan-penamaan dari suatu daerah ataupun jalan di Surabaya.

"Karena itu kami menamai gerakan ini sebagai aksi Anak Surabaya Menanam Pohonnya. Selain memberi pengetahuan dan ketrampilan tentang menanam, anak-anak juga dilibatkan dalam upaya-upaya pelestarian pohon Surabaya," katanya.

Komunitas Kampung Sawoeng dalam kegiatan ini menggandeng PT Intiland Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya dan juga melibatkan anak-anak SD.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar