Kasus terduga difteri di NTB bertambah

Kasus terduga difteri di NTB bertambah

Arsip: Petugas Dinas Kesehatan Provinsi Banten menyuntikan vaksin difteri kepada anak di Posyandu Cirengas, Serang, Banten, Sabtu (16/12/2017). (ANTARA /Asep Fathulrahman) ()

Mataram (ANTARA Newsa) - Gejala terduga difteri di Nusa Tenggara Barat bertambah menjadi delapan orang.

"Sebelumnya, lima terjadi di Bima dan tiga lagi di Lombok," ujar Pelaksana Tugas (PLt) Kepala Dinas Kesehatan NTB di Mataram, Rabu.

Namun dikatakannya, dari delapan orang, lima orang yang sebelumnya di rawat di RSUD Bima sudah dipulangkan. Karena, setelah dilakukan pemeriksaan hasilnya negatif.

"Yang lima di Bima sudah dikirim hasilnya dan dinyatakan negatif difteri oleh laboratorium di Surabaya," terangnya.

Sementara, tiga warga Lombok lagi masih dirawat di RSUD Provinsi NTB di kota Mataram. Ketiga warga yang dirawat tersebut, yakni Ibnu Khalil (11) asal Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Humaira Airlangga (5) dari Labuapi, Lombok Barat, dan Mulyani 28 tahun dari Kayangan.

"Itu baru suspect dan secara klinis hasil pemeriksaan di RSUD mudah- mudahan negatif dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium di RSUD juga negatif," jelasnya.

Saat ini kata dia, kondisi tiga pasien yang dirawat perkembangan baik, tetap dilakukan pemantauan oleh tim dokter.

Diakuinya, meski dinyatakan negatif oleh pihak RDUD, namun pihaknya akan menunggu hasil laboratorium Surabaya yang telah ditunjuk Kementerian Kesehatan. Karenanya, pihaknya masih menunggu keputusan Kementerian Kesehatan terkait pelaksanaan Outbreak Response Imunization Difteri (ORI Difteri) atau imunisasi difteri di NTB, khususnya di wilayah Bima.

"Untuk pelaksanaan ORI di Bima kami dalam hal ini masih konsultasikan ke pusat, memang edaran Kemenkes meski cuma satu langsung dilaksakan ORI," katanya.

Lebih lanjut, ia menyatakan, walaupun kasus suspect disteri ada ditemukan, pihaknya berharap hal tersebut tidak terjadi di NTB. Bahkan, pihaknya optimis NTB masuk dalam zona difteri.

"Insya Allah NTB masuk zona aman difteri," tandasnya.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar