Kiat lindungi anak dari pelaku kejahatan seksual

Kiat lindungi anak dari pelaku kejahatan seksual

Grafiti di satu dinding di Lisbon yang menggambarkan seorang pendeta mengejar dua anak. (Wikimedia Commons/Miliped)

Jakarta (ANTARA News) - Orang tua memiliki peran penting untuk melindungi anak-anak dari para pelaku kejahatan seksual. Berikut kiat yang bisa diterapkan orang tua dan keluarga pada anak mereka, yang dihimpun ANTARA News dari berbagai sumber:  


Di jalan

1. Kenali teman-teman di sekitar anak

Jim Gamble yang pernah bergabung dalam Pusat Perlindungan Online dan Eksploitasi Anak di Inggris menyarankan agar orang tua meminta anak membawa teman mereka ke rumah.

2. Peka pada perubahan perilaku anak

"Apakah mereka tiba-tiba terlihat berantakan atau memiliki tanda fisik yang tidak bisa mereka jelaskan? Apakah mereka pulang membawa hadiah atau uang yang tidak dapat mampu mereka dapatkan? Setiap orang tua harus mengenali tanda-tanda itu," kata ahli perlindungan anak dari badan amal yang fokus pada perlindungan anak di Inggris (NSPCC), Jon Brown.

3. Biasakan anak untuk mempercayai intuisinya terhadap bahaya
 
Praktisi pendidikan Najeela Shihab menuturkan, ada situasi dimana anak merasa khawatir saat bertemu orang tertentu atau melewati jalan baru. Kemudian, jangan larang anak mendengarkan yang dirasakan. Anjurkan anak berpikir cara untuk lebih berhati-hati, menunggu sampai ada orang yang menyeberang berbarengan, tidak duduk di taksi sebelum orangtua masuk duluan, dan seterusnya.

4.  Latih secara spesifik kemampuan anak menghadapi bahaya di tempat umum.

Misalnya berteriak "tolong" dan bukan "bunda/mama" akan membuat orang disekeliling lebih waspada. Kemudian, memperhatikan letak pintu dan stop kontak setiap masuk ke ruangan baru, dan berbagai teknik sederhana lainnya.

5. Tumbuhkan disiplin diri anak tanpa ancaman dan sogokan.


Pelaku kekerasan seksual dengan sengaja memilih anak-anak rentan yang mudah ketakutan, kecanduan pujian dan mencari imbalan untuk melakukan sesuatu.


Di dalam rumah

Dalam beberapa kasus, penganiayaan terjadi dalam keluarga dan seringkali oleh anggota keluarga besar. Apa yang dapat Anda lakukan:

1. Yakinkan anak

"Ketika anak-anak dianiaya, salah satu alasan paling sering mengapa mereka tidak memberi tahu ibu mereka adalah karena khawatir tidak akan dipercaya," kata Brown.

Jadi, yakinkan anak kalau orang tua terutama ibu adalah salah satu sosok yang bisa mereka percaya.

2. Beritahu mereka bagaimana melaporkan pelecehan

3. Pahami bagaimana pelecehan atau penganiayaan terjadi

Jelaskan batasan peran keluarga kepada anak Anda, termasuk peran orang-orang dewasa di dalam keluarga. Anak-anak harus tahu bahwa jika seorang anggota keluarga laki-laki meminta mereka menyimpan rahasia dari Anda, itu tidak tepat.

4. Biasakan untuk mengikuti kata "tidak" dan "stop" dari anak

Najeela mengatakan, hal ini berlaku misalnya saat anak menolak dicium atau minta berhenti digelitiki.

"Apakah anak belajar mengendalikan dan menghormati kenyamanan tubuhnya akan ditentukan oleh reaksi orangtua. Jangan bilang "sedikit saja", atau "masak gak mau dicium". Bayangkan bila kalimat yang sama diucapkan orang yang berbahaya," kata dia.

5.  Contohkan anak sejak dini untuk membedakan bagian tubuh yang aman dan tidak aman untuk disentuh.

Menurut Najeela, orang tua perlu menunjukkan sentuhan aman saat menjabat dan mencium tangan, tidak pada sembarang orang. Lalu jelaskan sentuhan tidak aman saat memegang bagian tubuh yang tertutup rapat.

6. Ajarkan anak tentang rahasia.

Jelaskan informasi yang boleh disembunyikan dari orang tua, dan mana yang harus diceritakan walaupun diminta seseorang untuk tidak membocorkannya.

"Rahasia baik, itu kejutan yang kalau ibu tahu pasti senang -- misalnya hadiah ulang tahun. Rahasia buruk bila itu bikin ketakutan dan malu kalau nanti ketahuan ibu," tutur Najeela.



Media sosial

1. Jelaskan pada anak soal internet

Data dari Pusat Eksploitasi dan Perlindungan Anak di Inggris menunjukkan, anak-anak perempuan yang tampak lebih seksi di foto profil mereka, lebih cenderung menjadi sasaran. Bicara dan jelaskanlah pada anak tentang citra yang mereka tunjukkan di media sosial. Mintalah mereka dia untuk memikirkan ini.



2. Bergabung

Satu-satunya cara untuk memahami bagaimana jaringan sosial bekerja adalah bergabung didalamnya. Anda tidak harus berpartisipasi tapi setidaknya harus hadir. Pada awalnya, beritahu anak bahwa mereka bisa menjadi anggota di salah satu media sosial bila bersedia memasukkan akun Anda dalam pertemanan mereka.

Jika mereka ingin memblokir Anda, tanyakan mengapa. Bila alasanya karena malu, tawarkan kalau Anda akan mengganti nama akun Anda.  Terbukalah soal keterlibatan Anda, anak perlu menjaga kepercayaannya pada Anda.

3. Hidupkan pengaturan keamanan

Facebook memiliki tim penyelidik untuk memberantas eksploitasi anak di situsnya dan ada banyak fitur keamanan yang dapat digunakan orang tua untuk membuat Facebook lebih aman.


Smartphone

1. Peringatkan soal kiriman gambar soal seks

Pelaku sering menggunakan smartphone mereka mengirim foto dan menggunakan foto itu untuk melakukan tindakan seksual tertentu. Untuk alasan ini, penting bagi orang tua memperingatkan anak-anak tentang bahaya pesan berbau seksual setelah mereka memberi anak smartphone. Sejak awal, jelaskan pada anak untuk tidak mengirim gambar yang cenderung membuat orang lain tidak nyaman.

2. Ajari anak hadapi seseorang mengirim gambar eksplisit

Meskipun pada awalnya anak-anak terkejut kala menerima gambar atau foto-foto tak senonoh, namun banyak dari mereka tidak mau mengungkapkannya.
Seiring bertambahnya usia dan lebih terbiasa melihat hal ini, mereka mungkin menganggapnya "normal".

Beritahu anak untuk menghapus foto dan memblokir nomor orang yang mengirimnya. Jika seseorang meminta anak Anda untuk mengirim "pesan seksual" pastikan anak terlatih mengatakan tidak.

(Baca juga: Cerita psikolog jadi korban pedofil dan cara dia lindungi anak dari pelaku)



Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Waspadai, kejahatan seksual anak melalui internet

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar