Kekalahan di Timteng dorong ISIS pindah ke Filipina

Kekalahan di Timteng dorong ISIS pindah ke Filipina

Tentara Pasukan Demokratis Suriah menaiki kendaraan lapis baja setelah Raqqa dibebaskan dari milisi Negara Islam, di Raqqa, Suriah, Selasa (17/10/2017). (REUTERS/Erik De Castro)

Manila (ANTARA News) - Militan ISIS asing yang terdepak keluar dari Suriah dan Irak telah tiba di Filipina dengan maksud untuk merekrut anggota baru, dan mereka memiliki rencana untuk menyerang dua kota di Filipina, kata kepala kelompok pemberontak terbesar di negara itu, Selasa.

Lebih dari 1.100 orang tewas tahun lalu ketika militan pro-ISIS menyerang dan menduduki kota Marawi di Filipina selama lima bulan, hingga menyebabkan kerusakan besar di kota tersebut.

Itu bisa terjadi di kota-kota lain jika Kongres gagal mengeluarkan undang-undang untuk mengizinkan umat Islam di Filipina Selatan menjalankan urusan mereka sendiri, menurut Ebrahim Murad, pemimpin Front Pembebasan Islam Moro, sebuah kelompok separatis yang menandatangani kesepakatan damai dengan pemerintah sebagai pengganti otonomi yang lebih besar.

"Berdasarkan informasi intelijen kita sendiri, militan asing yang mengungsi dari Timur Tengah terus memasuki perbatasan negara kita dan mungkin berencana untuk mengambil dua kota di Selatan, yaitu Iligan dan Cotabato," kata Murad.

Baca juga: PM Irak umumkan negaranya bebas dari ISIS

Kedua kota tersebut masing-masing 38 km dan 265 km dari Marawi.

Murad mengatakan bahwa militan dari Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah diketahui telah memasuki Filipina, termasuk seorang pria Timur Tengah yang memegang paspor Kanada.

Orang itu pergi ke markas kelompok militan Abu Sayyaf, yang terkenal karena penculikan dan pembajakan, kata Murad.

Murad mengatakan militan telah merekrut pejuang di komunitas Muslim terpencil, memanfaatkan penundaan dalam UU yang ditujukan untuk mengatasi keluhan Muslim yang sudah berlangsung lama, yaitu Undang-Undang Dasar Bangsamoro (BBL).

"Para ekstremis ini pergi ke madrasah untuk mengajarkan Islam versi mereka sendiri pada generasi muda, serta beberapa universitas lokal pun dimasuki untuk mempengaruhi siswa, menanam benih kebencian dan kekerasan," katanya.

Skenario semacam itu akan masalah bagi militer, yang bertarung di berbagai titik di Mindanao untuk mengalahkan loyalis, bandit, dan pemberontak komunis yang tumbuh di rumah.

Mindanao berada di bawah darurat militer.

Pihak militer mengatakan sisa-sisa aliansi militan yang menduduki Marawi mencoba untuk berkumpul kembali dan menggunakan uang tunai dan emas yang dijarah dari Marawi untuk merekrut ulang.

Pernyataan Murad sampai ke Presiden Rodrigo Duterte, yang bulan lalu mendesak anggota parlemen untuk meloloskan BBL, atau menghadapi serangan balik dengan separatis setelah dua dasawarsa masa damai.

"Kami tidak bisa secara meyakinkan memenangi perang melawan ekstremisme jika kita tidak bisa memenangi perdamaian di Kongres," kata Murad, demikian Ruters.

Baca juga: PM Inggris: ISIS "belum dikalahkan"

(R029/032)

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar