counter

Laporan dari Laos

Produk makanan tradisional Indonesia ludes di Laos

Produk makanan tradisional Indonesia ludes di Laos

Arsip: Naget pisang dengan topping vanila dan Milo besutan Sang Pisang, usaha kuliner putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep yang meramaikan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018. (ANTARA News/ Sella Panduarsa Gareta)

Vientiane, Laos (ANTARA News) - Produk makanan tradisional Indonesia yang dipamerkan di Pameran UKM di Vientiane Center, Laos, 5-6 Mei, ternyata digemari oleh masyarakat Laos dan langsung ludes tidak tersisa pada hari pertama pameran.

"Warga Laos sangat antusias mencicipi produk kami," kata pengusaha dari PT Global Foods, Diani Meutia, di Vientiane, Laos, Sabtu.

Diani memaparkan, Global Foods adalah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam produksi makanan siap saji yang dapat disantap hanya setelah lima menit dipanaskan di microwave atau kukusan.

Ia juga mengemukakan bahwa pabrik perusahaan mereka terletak di Citeureup, Bogor, Jawa Barat.

Selain mencari mitra lokal untuk menjajakan produk di Laos, produk dari Global Foods juga sedang berproses untuk diekspor ke China.

Menurut dia, produk yang sangat laku dan diminati masyarakat Laos antara lain adalah nasi uduk dan nasi pandan wangi dengan rendang daging sapi.

Diani juga memaparkan bahwa distribusi ke Laos juga dinilai lebih mudah karena persyaratannya tidak seberat bila harus melakukan ekspor misalnya ke Hong Kong atau China.

Di tempat terpisah juga diwartakan bahwa produk makanan dan minuman Indonesia semakin banyak jenisnya memasuki pasar di Kanada melalui Pameran Makanan dan Minumen Internasional di Kanada.

Dalam pameran yang dilangsungkan selama tiga hari di pekan pertama Mai itu tercatat jumlah pengunjung mencapai sekira 18.500 orang yang melibatkan sekira 1.000 eksebitor dari 50 negara, kata Penerangan, Sosial dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (Pensosbud KBRI) Ottawa, Nadia Amalia.

Dalam International Food and Beverage Trade Show (Salon International de`alimentation) itu, empat perusahaan Indonesia memasarkan berbagai produk makanan dan minuman khas, antara lain keripik nangka organik, keripik salak, buah nenas dalam kemasan kaleng, mie instant, keripik tempe, keripik singkong, kecap manis, biskuit dan minuman teh.

Selain itu, produk bumbu ala Indonesia juga dipasarkan di pameran tersebut, antara lain santan bubuk dan cair, tepung bumbu dan saus sambal.

Sampai hari terakhir pameran, KBRI Ottawa mencatat bahwa keempat perusahaan Indonesia itu membukukan total potensi transaksi sejumlah 1.007.102 dolar Amerika Serikat (AS).

Keempat perusahaan tersebut juga melakukan pertemuan bisnis dengan sejumlah perusahaan importir guna menjajaki kerja sama mengirim produk makanan dan minuman dari Indonesia ke Kanada.

Sebelumnya, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Marseille, Perancis pada pekan pertama April juga mempromosikan makanan tradisional Indonesia kepada Walikota Marseille Jean Roatta dan Direktur Promosi Pemerintah Frederic Olivo.

Konjen RI Marseille juga mengundang Direktur yang menangani wilayah Asia, Martial Caspar, untuk mencicipi makanan tradisional Indonesia seperti rendang, sate ayam, gado-gado, dan lain sebagainya.

Berbagai variasi makanan dilahap dengan sangat nikmat oleh ketiga undangan yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia dan Prancis memiliki kecintaan dan kekayaan kuliner yang sama besarnya.
 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Anies ibaratkan persatuan Indonesia seperti air

Komentar