Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengakui bahwa bangsa Indonesia masih belum mampu menggunakan secara maksimal Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), walaupun teknologi tersebut telah tersedia. Saat berbicara dalam acara gala dinner bersama Guru Besar Pemasaran Philip Kotler di Jakarta, Selasa malam, Jusuf Kalla mencontohkan tidak optimalnya penggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi tersebut, seperti di DPR dan saat perhitungan suara pemilu. Dikatakannya bahwa di gedung DPR, telah dilengkapi dengan alat pemungutan suara yang sebenarnya canggih namun, tidak pernah digunakan sama sekali. "Sejak saya jadi anggota DPR sampai sekarang, alat itu, tidak pernah sekali pun digunakan," katanya. Anggota DPR, lanjut Kalla, lebih suka angkat tangan atau berdiri saat vooting agar dilihat banyak orang. Selain itu, teknologi canggih yang belum digunakan secara maksimal adalah dalam pemilu, dimana penghitungan secara elektronik masih terkalahkan, dengan perhitungan manual. Menurut Kalla, faktor penting yang terkait dengan aplikasi teknologi maju di bidang informasi dan komunikasi tersebut, sebenarnya lebih pada rasa percaya terhadap teknologi itu, sendiri. Tanpa itu, tambah Kalla, akan sulit teknologi informasi dan komunikasi memback-up kemajuan bangsa. Sementara itu, dalam acara yang bertema "Marketing Indonesia 3,0 dari Perspektif Teknologi Informasi dan Komunikasi, Presiden Asosiasi Marketing Dunia Hermawan Kertajaya mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya bisa bersaing dengan negara lain jika mampu mengadopsi konsep QCD. QCD yakni, (quality, cost, delivery) yakni mampu menghasilkan produk maupun jasa yang berkualitas dengan biaya yang sangat efesien atau murah, dan pengirimannya yang on time (tepat waktu) atau riil time. Sementara itu, Kotler dalam pemaparannya tentang marketing bangsa menegaskan bahwa integrasi keterpaduan merupakan kata kunci dalam memasarkan suatu negara. "Setiap negara, membutuhkan pertolongan marketing," ujarnya. Dan terkait dengan hal tersebut, menurut Kotler, ada sejumlah elemen marketing yang perlu dilakukan di antaranya, menonjolkan ciri khas suatu bangsa, hingga merumuskan slogan yang mampu menarik perhatian. Dalam kesempatan itu, tampak hadir mendampingi Wapres di antaranya Menkominfo Mohammad Nuh dan MenPAN Taufik Effendi.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2007