Gitar batik Solo merambah kota Moskow

Gitar batik Solo merambah kota Moskow

Ilustrasi - Pekerja menyelesaikan pembuatan gitar. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Moskow (ANTARA News) - Kehadiran stand alat muslk gitar bermotif batik dari Batiksoul dalam acara Festival Indonesia yang digelar KBRI Moskow di Krasnaya Presnya Park, Moskow, menarik perhatian seniman dan masyarakat Rusia dan diharapkan dapat memenuhi pasar dunia.

Pada Festival Indonesia yang digagas Dubes Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus M Wahid Supriyadi yang digelar pada 2 hingga 5 Agustus itu,  desain gitar dan motif batik dari Batiksoul Guitar mendapat banyak perhatian pengunjung yang sebagian besar warga Rusia di Moskow.

Gitar Batik banyak diminati di Moskow, khususnya dari kalangan seniman Rusia, ujar Founder and Luthier dari Batiksoul Guitars, Guruh Sabdo Nugroho kepada Antara London, di Moskow, Minggu.

Guruh Sabdo Nugroho mengatakan Gitar Batik karya Batiksoul merupakan desain original dengan memperhatikan aspek alami, mudah dimainkan dan ergonomis agar dapat diterima pasar dan musisi dunia.

"Kami mulai merintis Batiksoul Guitar sejak tahun 2011 berawal dari passion ingin menciptakan instrumen gitar buatan tangan/handmade dengan konsep boutique," ujar Guruh Sabdo Nugroho.

Ia mengakui memulai dari riset dan pengembangan selama lebih setahun untuk uji coba dan bagaimana mengaplikasikan teknik batik tradisional pewarna alam pada media premium tonewood (kayu solid berkualitas) instrumen gitar terutama gitar akustik.

"Tidak mudah memang mengaplikasikan batik, ke dalam alat musik gitar karena proses batik dari teknik canting, coloring dan pemlorotan lilin malam tidak boleh merusak kualitas tonewood kayu. Itulah sebab trial error memakan waktu satu tahun lebih," ujarnya.



Buatan tangan

"Semua gitar yang dirancang dilakukan secara handmade dengan menggabungkan teknik tradisional dan teknik standar luthier (istilah untuk pembuat gitar dunia). Kenapa kita memilih batik sebagai ciri khas, karena kami ingin disaat seorang musisi internasional memakainya ada identik bahwa itu buatan Indonesia. Dan batik akan lebih dikenal. Dan kebetulan juga kami tinggal di Sentra pengrajin batik di Sukoharjo Solo," ujarnya.

Mengenai tanggapan pasar di Moskow diakuinya cukup baik, karena konsep " boutique guitar" tidak diproduksi secara massal. Semua gitar yang diproduksi untuk pasar luar adalah eksklusif. dibuat secara terbatas untuk tiap model. Untuk seri ini hanya dibuat satu unit tiap modelnya dan bersertifikat, ujarnya.

Sampai saat ini gitar Batik sudah sampai di lebih dari 20 negara seperti Singapura , Malaysia, Thailand, Australia, Kanada, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rusia, Prancis, Italia, Belanda, Belgia, Denmark, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Koleksi Batiksoul Gitar digunakan dan dikoleksi oleh musisi Wim Van rijk dari Belanda, Bo Skullbanger Singapore, Savage Playground Canada, Dmitriy Murin Rusia dan musisi Regee Indonesoa Ras Muhammad, dan banyak lagi, ujarnya.

Menurut Guruh Sabdo Nugroho, sejak tahun lalu ia sudah mulai berminat untuk mengembangkan gitar dengan menggunakan kayu tropis Indonesia. Seperti kayu mangga, kayu nyatoh, kayu akasia dan kayu trembesi. Beberapa prototype sudah bisa diterima pasar.

Ia mengakui bahwa pembeli tidak hanya datang dari musisi atau kolektor gitar tapi juga dari kolektor barang seni. Bahkan ada kolektor Eropa yang gitarnya diukir dan diberi full gold leaf. Salah satu kolektor gitar batik adalah mantan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dan Presiden Jokowi.

Ia mengatakan, harga gitar batik dipatok mulai dari 2.000 sampai 8.000 dolar AS tergantung dari banyak aspek spesifikasi model dan detailnya.

Diharapan tahun ini mendapat mitra bisnis atau paling tidak memperbanyak tatap muka langsung dengan musisi Rusia, sehingga bisa menjelaskan lebih rinci tentang Batiksoul, demikian Guruh Sabdo Nugroho.

Menurut rencana Batiksoul akan menyerahkan salah satu gitar pertama mereka ke Museum Art and Oriental Moskow yang akan didampingi Dubes Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus M Wahid Supriyadi. 

Baca juga: Festival Indonesia kembali digelar di Moskow Agustus

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar