BI masih intervensi pasar untuk stabilkan rupiah

BI masih intervensi pasar untuk stabilkan rupiah

Petugas teller memperlihatkan pecahan uang dolar AS di Kantor Pusat Bank Mandiri, Kamis (28/6/2018). Data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan, nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp14.271 per dolar AS atau yang terlemah sejak tiga tahun terakhir akibat sentimen market maupun faktor yang sifatnya fundamental. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Kita masih kombinasi dari situ. Jadi kalau kita masih intervensi artinya kita masih lihat dulu rupiah masih belum stabil
Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia menyatakan masih melangsungkan kombinasi berbagai kebijakan moneter termasuk intervensi pasar supaya nilai tukar bergerak ke rentang fundamentalnya, meskipun dalam beberapa hari terakhir nilai rupiah bergerak dalam tren menguat di posisi Rp14.800.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Kantor Pusat BI Jakarta, Jumat, mengatakan Bank Sentral melihat tekanan ekonomi eksternal masih membayangi pergerakkan nilai tukar rupiah.

BI, ujarnya, terus mewaspadai tekanan ekonomi eksternal dengan melancarkan intervensi ganda dan juga mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan. 

"Kita masih kombinasi dari situ. Jadi kalau kita masih intervensi artinya kita masih lihat dulu rupiah masih belum stabil," kata Dody.

Intervensi ganda BI dilakukan di pasar valuta asing dan di pasar Surat Berharga Negara (SBN), di mana Bank Sentral membeli SBN yang dilepas investor asing di pasar sekunder.

Pernyataan Dody muncul di tengah tren penguatan rupiah, namun Dody menyebutkan nilai tukar saat ini belum sesuai fundamentalnya.

Penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir banyak disebabkan tekanan ekonomi global yang mereda dan nilai dolar AS yang melemah. Berkurangnya tekanan global itu juga berhasil membawa modal asing kembali ke instrumen keuangan Surat Berharga Negara.

"Walaupun secara nett masih ada dana keluar. Tapi beberapa hari ini sudah mulai masuk," katanya.

Dody tidak memungkiri bahwa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, masih dihadapkan pada potensi-potensi dampak gejolak perekonomian global.

Sumber gejolak yang paling sulit dikalkulasi adalah perang dagang global antara negara Paman Sam dan China yang terus berkelindan dan memicu aksi retaliasi (pembalasan) satu sama lain.

Selain itu, dampak dari krisis mata uang Lira Turki dan Argentina juga masuk radar Bank Sentral.
 
Ketua Mahkamah Agung M Hatta Ali (kanan) memberikan ucapan selamat kepada Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo (kiri) yang baru dilantik di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (18/4/2018). Dody Budi Waluyo resmi menjabat Deputi Gubernur BI menggantikan Perry Warjiyo yang habis masa jabatannya dan menjadi Gubernur BI pada Mei 2018 menggantikan Agus Martowardojo. (ANTARA/Sigid Kurniawan)


Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuannya empat kali dengan dosis 1,25 persen pada tahun 2018 guna menangkal tekanan terhadap rupiah. Selain itu cadangan devisa sejak akhir 2017 hingga akhir Agsutus 2018 ini telah menurun 12,3 miliar dolar AS yang salah satu penggunaannya untuk keperluan stabilisasi nilai tukar rupiah, berdasarkan perhitungan merujuk data BI.

Dody mengatakan Bank Sentral masih mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan di September 2018 dengan menyesuaikan terhadap perkembangan data ekonomi terbaru.

BI akan menggelar rapat dewan gubernur untuk memutuskan kebijakan terbaru pada 26-27 September 2018.

Baca juga: BI akan kawal ketat rupiah









 

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar