LIPI: hadang tsunami dengan mangrove

LIPI: hadang tsunami dengan mangrove

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (tengah) berjalan berdampingan dengan Presiden Bank Dunia (World Bank) Jim Yong Kim saat melakukan kunjungan kerja di kawasan wisata Mangrove di Denpasar, Jumat (6/7/2018). Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama dengan World Bank dalam penanganan masalah sampah di Indonesia. (ANTARA FOTO/Wira Suryantala)

Sekarang kita perlu lihat apakah pantai-pantai kita masih ada mangrovenya atau tidak
Jakarta (ANTARA News) - Peneliti Geofisika Kelautan LIPI Nugroho Dwi Hananto mengatakan mangrove dengan akar tunjangnya yang tumbuh rapat dan melebar akan bekerja seperti jaring untuk menghadang gelombang laut seperti tsunami.

"Seperti baskom berisi air lalu dimasuki spon, maka akan ada bagian air yang bergolak namun ada pula yang tenang karena terhalang oleh spon tadi," kata Nugroho kepada Antara di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan sama halnya ketika ada pesisir yang rapat ditumbuhi mangrove maka akan ada reaksi di mana air yang ada di sisi daratan akan lebin tenang.

"Sekarang kita perlu lihat apakah pantai-pantai kita masih ada mangrovenya atau tidak. Kalau ada kita perlu pelihara, kalau tidak ada tapi (daerahnya) potensial ditanami mangrove maka tanami lah," ujar dia.

Karena selain bisa meredam tsunami, Nugroho mengatakan mangrove juga bisa memberikan jasa lingkungan seperti penyerapan karbon dan menjadi tempat memelihara ikan-ikan dan satwa laut lainnya.

Mangrove, lanjutnya, juga memiliki karekter tumbuh di pantai yang tidak curam. Karena di sana tumbuhan ini tidak terhantam ombak.

"Bisa saja kita tegakkan dengan bambu, tapi memang tidak semua pantai bisa kita kasih mangrove. Jadi perlu dilihat cocok atau tidak," kata Nugroho.

Jika tidak cocok maka untuk keperluan mitigasi di daerah pesisir bisa dibangun tembok penahan tsunami, seperti yang dilakukan di Jepang. Atau cara lain dengan membuat jalur evakuasi, lanjutnya.

Untuk pantai-pantai di Teluk Palu, menurut Nugroho, memang akan jarang ditumbuhi mangrove mengingat daerah itu merupakan perairan dalam. Kecenderungannya jika teluk dalam dan menyisakan sedikit pantai maka gelombangnya akan besar, sehingga tumbuhan seperti mangrove akan sulit berkembang.

"Jaman dulu orang memang suka membuat kota di teluk karena biasanya ombaknya tenang. Tapi kita juga belajar, seharusnya kota tidak dibangun di atas sesar aktif," kata Nugroho.

Jadi, menurut dia, memang perlu dipetakan lagi lokasi-lokasi rawan gempa dan tsunami di Indonesia. Agar mitigasi bencana yang diupayakan menjadi efektif.

Baca juga: Cegah abrasi, 110.000 mangrove ditanam di Pantai Maron Semarang
Baca juga: Cegah Abrasi Mentawai Tanam 10 Ribu Bibit Mangrove

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pertamina bangun rumah pembibitan mangrove Margomulyo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar