Stimulus China picu harga minyak bangkit dari penurunan

Stimulus China picu harga minyak bangkit dari penurunan

Ilustrasi: Pekerja mengawasi pengoperasian mesin di Kilang Minyak PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

"Minyak Iran tidak dapat digantikan oleh Arab Saudi atau negara lain"
Houston (ANTARA News)  - Harga minyak hampir sepenuhnya pulih dari penurunan tajam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), sehingga memangkas kerugian karena investor merespon langkah stimulus ekonomi China mampu mengangkat permintaan minyak mentah di negara itu.

Pedagang-pedagang mengirim patokan global minyak mentah Brent jatuh di bawah 83 dolar AS per barel pada awal sesi setelah bank sentral China pada Minggu (7/10) memangkas persyaratan cadangan pemberi pinjaman. Sinyal Beijing sedang bekerja untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

"Reaksi oleh China terhadap perlambatan adalah obat penawar pasar untuk mulai diperhitungkan kembali," kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York, seperti dikutip Reuters.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember mencapai terendah sesi di 82,66 dolar AS, tetapi menetap hanya 0,25 dolar AS lebih rendah pada 83,91 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Brent mencapai tertinggi empat tahun 86,74 dolar AS minggu lalu.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November jatuh ke terendah sesi di 73,07 dolar AS per barel, tetapi naik kembali menjadi menetap di 74,29 dolar AS, hanya turun 0,05 dolar AS di New York Mercantile Exchange.

Para pedagang mengatakan harga minyak juga mendapat dorongan dari laporan baru yang menunjukkan penurunan kecil dalam persediaan minyak di pusat penyimpanan utama AS di Cushing, Oklahoma, pekan lalu.

Tingkat penyimpanan di Cushing sekitar 28,5 juta barel pada Jumat (5/10), perusahaan intelijen pasar Genscape melaporkan, menurut para pedagang yang melihat laporan tersebut. Mereka mengatakan angka itu turun 15.000 barel dari yang dilaporkan Genscape pada awal pekan lalu.

Laporan penurunan kecil minyak mentah mengurangi kekhawatiran bahwa telah harga minyak telah tertekan setelah data pemerintah AS pada Rabu (3/10) menunjukkan sebuah penambahan besar di stok minyak mentah komersial AS.

Juga menekan minyak di bawah 83 dolar AS per barel di awal perdagangan adalah laporan bahwa beberapa ekspor minyak Iran akan terus mengalir setelah AS memberlakukan kembali sanksi-sanksi.

Pekan lalu, Arab Saudi mengumumkan rencana untuk meningkatkan produksi minyak mentah bulan depan menjadi 10,7 juta barel per hari (bph), tingkat tertinggi kerajaan selama ini.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh pada Senin (8/10) menyebut klaim Saudi bahwa kerajaan itu dapat menggantikan ekspor minyak mentah Iran "omong kosong."

"Minyak Iran tidak dapat digantikan oleh Arab Saudi atau negara lain," kata Zanganeh, menurut situs web kementeriannya.

Pada Senin (8/10), perusahaan-perusahaan minyak Teluk Meksiko menutup 19 persen produksi minyak mereka karena Badai Michael bergerak ke arah negara-negara bagian di timur Teluk Meksiko, termasuk Florida.

Jika perkiraan saat ini terbukti akurat, badai tersebut tidak akan mengenai sasaran aset-aset produksi utama di Teluk Meksiko, kata para analis.

Namun, "Jika badai itu sama sekali bergerak tidak stabil (goyah), itu akan menjadi pukulan langsung pada aset-aset produksi di Teluk Meksiko," kata Kilduff.

Harga minyak juga menurun di tengah laporan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan keringan sanksi-sanksi terhadap ekspor minyak mentah Iran.

Baca juga: AS bakal ringankan sanksi Iran, harga minyak pun turun

Baca juga: Saudi jual saham Aramco dua triliun dolar AS


 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar