Pertemuan IMF-WB

Indonesia Bersuara Lantang Untuk Kurangi Dampak Ketidakpastian Ekonomi Global

Indonesia Bersuara Lantang Untuk Kurangi Dampak Ketidakpastian Ekonomi Global

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) bersama Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (Kedua kiri), Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim (kanan) dan Ketua Pleno Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group Petteri Orpo (Kiri) berfoto bersama sebelum Rapat Pleno Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa/aww.

Dengan berbagai masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan winter is coming
Nusa Dua (ANTARA News) -  Indonesia berusara lantang di hadapan para pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia agar mereka lebih koperatif ketimbang berkompetisi menghadapi tantangan ketidakpastian ekonomi global.

Suara lantang untuk kepentingan bersama masyarakat dunia itu disuarakan beberapa kali oleh wakil Indonesia dalam Rangkaian Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali 8-14 Oktober 2018.

Meningkatnya eskalasi perang dagang global adalah isu yang terus mewarnai serangkaian diskusi dalam pertemuan tahunan yang dihadiri 189 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral tersebut. Tantangan ekonomi global lainnya adalah normalisasi kebijakan moneter negara-negara maju dan kerentanan sektor keuangan yang ditandai dengan depresiasi nilai tukar mata uang.

Sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki peran penting untuk menentukan agenda dalam rangkaian, termasuk rapat pleno Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

Adalah pidato Presiden Indonesia Joko Widodo yang menganalogikan kondisi perekonomian global saat ini dengan serial Game of Thrones yang telah menjadi gaung dalam pertemuan tersebut. Jokowi mengingatkan evil winter akan datang jika segelintir negara-negara maju hanya mementingkan ego sektoral dan mengabaikan kepentingan masyarakat luas di tengah perekonomian saat ini.

Pidato pembuka itu disambut meriah Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, pemimpin negara-negara ASEAN, serta pengambil kebijakan moneter dan fiskal. Usai pidato, mereka bertepuk tangan sambil berdiri. Kedua pemimpin lembaga multilateral tersebut juga memuji secara langsung pidato Jokowi yang menggambarkan kondisi kompetisi perekonomian dan risikonya saat ini.

Jokowi mengingatkan salah satu sumbu ketidakseimbangan global adalah bahwa Amerika Serikat telah menikmati pertumbuhan pesat, namun banyak negara lain yang pertumbuhannya lemah atau tidak stabil. Perang dagang marak, pasar finansial rentan, inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang, sehingga membuat negara-negara mengalami tekanan pasar yang besar.

"Dengan berbagai masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan winter is coming," kata dia.

Menurut Jokowi, dalam beberapa dekade terakhir, negara-negara maju mendorong negara berkembang membuka diri dan ikut dalam perdagangan bebas dan keuangan terbuka. Namun, akhir-akhir ini, hubungan antarnegara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti Game of Thrones.

Keseimbangan kekuasaan dan aliansi antarnegara-negara ekonomi maju tengah retak. Lemahnya kerja sama dan koordinasi menyebabkan banyak masalah, seperti peningkatan harga minyak mentah dan kekacauan di pasar mata uang yang dialami negara-negara berkembang.

Serial itu menggambarkan perebutan kekuasan di antara great houses, di mana sesama great houses berjaya dengan menjatuhkan yang lainnya.

Kemudian, ujar Presiden, dengan ancaman itu akhirnya mereka sadar tidak penting siapa yang menang dalam kompetisi, tetapi lebih baik menggalang kekuatan bersama untuk kalahkan Evil Winter agar bencana global tidak terjadi, dan dunia tidak menjadi porak-poranda.

"Namun, mereka lupa tatkala para great houses sibuk bertarung, mereka tidak sadar ada ancaman besar dari Utara, yaitu orang Evil Winter yang ingin rusak dan menyelimuti dunia dengan es dan kehancuran," kata Jokowi.



Sikap The Fed

Indonesia adalah salah satu dari negara berkembang yang dilanda ketidakpastian pasar keuangan global dalam beberapa tahun terakhir. Sumber ketidakpastian yakni normalisasi kebijakan moneter negara maju seperti AS dan juga perang dagang yang telah membuat nilai tukar rupiah melemah hingga ke level terburuknya di Rp15.000 atau terparah sejak krisis ekonomi 1998.

Namun tekanan nilai tukar terjadi secara luas bukan hanya kepada Indonesia. Gejolak ketidakpastian itu juga menjadikan negara-negara berkembang lain menderita gejolak yang bahkan lebih parah dibanding Indonesia seperti Turki atau Argentina.

Negara berkembang memang menjadi sangat rentan terkena dampak dari ketidakpastian ekonomi global. Musababnya, porsi kepemilikan asing di pasar finansial membuat negara berkembang ringkih untuk berpijak di tengah hempasan angin ekonomi global. Penyebab lainnya adalah fundamen ekonomi domestik yang butuh perbaikan seperti defisit transaksi berjalan.

Maka dari itu, ketidakpastian yang bisa menimbulkan eskpetasi keliru pelaku ekonomi harus dikurangi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai Forum Bank Sentral di rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 mengatakan kejelasan dan transparansi dari salah satu pemangku kebijakan The Fed memberikan sedikit kepastian mengenai arah kebijakan Bank Sentral paling berpengaruh di dunia itu.

Perry menyatakan hal itu setelah berdiskusi dengan Presiden The Federal Reserve New York, John Williams. Perry juga sempat bertemu dengan Chairman Federal Reserve atau Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS Jerome Powell dan menyuarakan dampak yang dialami negara-negara berkembang dari normalisasi kebijakan moneter negara-negara maju termasuk oleh AS.

Sinyal positif mengenai kebijakan yang lebih kooperatif tidak hanya ditunjukan oleh salah satu pemangku kebijakan The Fed, tapi juga oleh banyak pemimpin Bank Sentral dari negara-negara maju seperti China, Jepang dan Benua Eropa dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018.

Perry mengatakan akan tetap mejadikan komunikasi sebagai salah satu instrumen kebijakan. Dia secara langsung juga meminta Bank Sentral negara-negara maju untuk turut memperhitungkan dampak dari normalisasi kebijakan moneter yang dilakukan terhadap pasar finansial negara berkembang. Hal itu patut menjadi pertimbangan negara maju, karena tekanan ekonomi yang melanda negara berkembang juga akan memberikan efek rambatan ke negara maju. Contohnya, tekanan daya beli di negara berkembang akan mengurangi nilai eskpor dari negara maju.

"Kita harus memperhitungkan efek dari normalisasi," kata Perry.

"Kami mendapat sikap yang jelas dari Williams bahwa kenaikan bisa gradual (bertahap)," tambah Perry di hadapan Williams.

Seruan Indonesia sebagai tuan rumah agar dunia bahu membahu mengurangi ketidakpastian juga didengungkan kembali oleh pemangku kebijakan moneter dunia.

Dalam Forum Group 30 (G-30) yang dilaksanakan satu hari setelah rapat pleno Pertemuan Tahunan IMF-World Bank, Gubernur Bank Sentral China Yi Gang menegaskan perlunya solusi konstruktif untuk menghentikan perang dagang antara AS dan China.

Yi Gang mengatakan negaranya juga menghadapi ketidakpastian akibat kompetisi perdagangan melalui instrumen tarif.  Yi menegaskan perang dagang akan sangat berdampak signifikan terhadap perekonomian global.

Jika terus belanjut, perang dagang hanya akan menimbulkan kondisi yang saling merugikan antarnegara.

"Dunia akan kehilangan karena tensi perang dagang," katanya.

Arah kebijakan moneter China, kata Yi, adalah netral, namun tetap hati-hati. Dia siap menyesuaikan kebijakan suku bunga dan syarat simpanan wajib perbankan jika diperlukan untuk merespon tekanan global.

Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda mengatakan perlunya dialog internasional untuk menelurkan pemahaman bersama tentang perdagangan bebas di tengah meningkatnya proteksionisme.*





 

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar